BAB I
PENDAHULUAN
A. A. Laatar
Belakang Masalah
Guru Sebagai seorang
pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya, guru khususnya ia dibekali dengan
berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula dengan seperangkat latihan
keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar memersosialisasikan
sikap keguruan yang diperlukannya. Seorang yang berpribadi khusus yakni ramuan
dari pengetahuan sikap danm keterampilan keguruan yang akan ditransformasikan
kepada anak didik atau siswanya.
Seorang guru baru dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai
pendidik dan juga berfungsi sebagai pembimbing. Dalam hal ini pembimbing yang
memiliki sarana dan serangkaian usaha dalam memajukan pendidikan. Seorang guru
menjadi pendidik yang sekaligus sebagai seorang pembimbing. Contohnya guru
sebagai pendidik dan pengajar sering kali akan melakukan pekerjaan bimbingan,
seperti bimbingan belajar tentang keterampilan dan sebagainya dan untuk lebih
jelasnya proses pendidikan kegiatan mendidik, mengajar dan membimbing sebagai
yang taka dapat dipisahkan.
Seperti
biasanya di dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar
merupkan kegiatan paling cocok dilakukan oleh siswa. Hal ini berarrti bahwa
berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana
proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Dalam kegiatan
sehari hari di sekolah sering di hadapkan pada kenyataan bahwa walaupun siswa
diberi pelajaran oleh guru dengan bahan pelajaran, waktu, tempat dan metode
pembelajaran yamng sama namun hasil yang diperoleh berbeda-beda. Hal itu
disebabkan karena banyak siswa yang mengalami hambatan-hamabatan dalam belajar,
baik dari dalam individu maupun dari luar individu.
Seperti yang
dikemukakan oleh Slamento (1995:18) bahwa ”berhasil tidaknya suatu pembuatan
ata proses belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kematangan dan
lingkungan keluarga”.Dengan hal tersebut, kehidupan keluarga dan pengaruh
sosial Ekonomi perkembangan baik anak selanjutnya karena keluarga merupakan
lingkungan pendidikan pertama yang mempunyai peranan penting dalam menentukan
dan membina proses perkembangan anak. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan
bahwa masalah yang dialami siswa di sekolah merupakan akibat atau lanjutan dari
situasi lingkungan keluarga.Berdasarkan penjelasan diatas disimpulkan bahwa
pengaruh sosial Ekonomi mempunyai peranan penting dalam pencapaian prestasi
belajar anak.
Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah
mengalami banyak perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan
berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan
semakin mengalami kemajuan.
Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka dewasa
ini pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang sangat
pesat. Perkembangan itu terjadi karena terdorong adanya pembaharuan tersebut,
sehingga di dalam pengajaranpun guru selalu ingin menemukan metode dan
peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi semua siswa. Bahkan
secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidi kan
yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan d bidang pendidikan
barulah ada artinya apabila dalam pendidiakn dapat dimanfaatkan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang membangun.
Pada hakekatnya kegiatan beiajar mengajar
adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa
dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses
belajar menganjar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya
sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan
sebagai sentral pembelajaran.
Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses
belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar
itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi
lebeh efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan
membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran
tersebut.
Guru mengemban tugas yang berat untuk
tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia
Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras,
tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani
dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap
tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial.
Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia
pembangunan dan rnembangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa. Depdikbud (1999).
Belajar dapat membawa suatu perubahan pada
individu yang belajar. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang
kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman
yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah.
Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai
(dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil
pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian
kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.
Prestasi belajar merupakan kecakapan nyata siswa mencapai
materi pelajaran tertentu sesuai kurikulum dan kriteria penelitian yang
mempunyai tujuan dan hasil yang harapan yaitu dalam bentuk pengetahuan, sikap,
dan keterampilan.Pretasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor,
baik berasal dari dalam dirinya (internal) maupun dari luar dirinya
(eksternal). Pretasi
yangdicapai siswa pada hakekatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai
faktor tersebut.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa
prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang
dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil
belajar tersebut dapat diketahui dengan mengadakan penilaian tes hasil belajar.
Penilaian diadakan untuk rnengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti
pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh
mana keberhasilan prestasi belajar mengajar di sekolah. Sejalan dengan prestasi
belajar, maka dapat diartikan bahwa tercapai atau tidaknya prestasi belajar
berpengauh pada faktor penghambat
dan pendukung.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat
dirumuskan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:
a. Apa yang dimaksud dengan prestasi belajar
?
b. Apa saja fator interen yang
mempengaruhi prestasi belaja ?
c. Apa saja faktor
ekstern yang mempengaruhi prestasi belajar ?
C. Tujuan
Sejalan
dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan disusunnya malah ini adalah :
a.
Untuk mengetahui pengertian prestasi belajar.
b.
Untuk mengetahui faktor intern yang mempengaruhi
prestasi belajar
c.
Untuk mengetahui faktor ekstern yang mempengaruhi
pretasi belajar
D. Manfaat
Manfaat yang diharapkan dalam penyusunan
makalah ini
adalah sebagai berikut:
a.
Sebagai bahan informasi bagi para guru, bahwa perbedaan tingkat pretasi anak
didik dalam satu sekolah karena dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern.
b.
Sebagai bahan informasi bagi penulis lain yang akan menulis hal-hal yang relevan dengan isi makalah ini.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Pengertian belajar
Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi
Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan
proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan
perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh
lainnya.
Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan
kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat
situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan
sebagainya.
Sedangkan Pengertian Belajar menurut Gagne
dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis
perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya
berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah
melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu
pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta
akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan
lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa
pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dari beberapa pengertian belajar di atas maka
dapat disimpulkan bahwa semua aktivitas mental atau psikis yang dilakukan
oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara
sesudah belajar dan sebelum belajar.
B.
Pengertia
Prestasi Belajar
Pengertian Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang
terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. Antara kata prestasi dan
belajar mempunyai arti yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum pengertian prestasi belajar, ada baiknya pembahasan ini
diarahkan pada masing-masing permasalahan terlebih dahulu untuk mendapatkan
pemahaman lebih jauh mengenai makna kata prestasi dan belajar. Hal ini juga
untuk memudahkan dalam memahami lebih mendalam tentang pengertian prestasi belajar itu sendiri. Di bawah ini akan
dikemukakan beberapa pengertian prestasi dan belajar menurut para ahli.
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah
dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok (Djamarah,
1994:19). Sedangkan menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar dalam Djamarah (1994:21)
bahwa prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil
yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas, jelas
terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya
sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat dipahami
bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,
diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja,
baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.
Menurut Slameto (1995 : 2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana
dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh
pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakekat dari aktivitas
belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu. Sedangkan
menurut Nurkencana (1986 : 62) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah
hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran.
Ditambahkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan
dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa
prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan
yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu
tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan
kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau
pernyataan.
C. Macam-macam Faktor Pengaruh.
Pelaksanaan proses belajar mengajar selayaknya berpegang
pada apa yang tergantung dalam perencanaan pembelajaran. Selanjutnya
diterbitkan oleh Depdiknas ( 2004 : 6 ) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
PBM tersebut antara lain :
- Faktor guru, pada faktor ini
yang perlu mendapat perhatian adalah keterampilan mengajar, metode yang
tepat dalam mengelola tahapan pembelajaran. Didalam intraksi belajar
mengajar guru harus memiliki keterampilan mengajar, mengelola tahapan
pembelajaran, memanfaatkan metode, mengunakan media dan mengalokasikan
waktu yang untuk mengkomunikasikan tindakan mengajarnya demi tercapainya
tujuan pembelajaran di sekolah.
- Faktor siswa, siswa
adalah subyek yang belajar atau yang disebut pembelajar. Pada faktor siswa
yang harus diperhatikan adalah karakteristik umum maupun khusus,
karateristik umum dari siswa adalah usia yang dikategorikan kedalam
Ø
Usia anak-anak yaitu usia pra sekolah dasar ( 4- 11
tahun);
Ø
Usia sekolah lanjutan pertama ( 12-14 tahun ) atau usia
pubertas dari setiap siswa;
Ø
Usia sekolah lanjutan atas ( 15-17 tahun ) atau usia mencari
identitas diri. Adapun karakteristik siswa secara khusus dapat dilihat dapat
dilihat dari berbagai sudut antara lain dari sudut lain, dari sudut gaya
belajar yang mencakup belajar dengan mengunakan visual,, dengan cara mendengar
(auditorial) dan dengan cara bergerak atau kinestetik ( Suprayekti, 2004 : 11
),
- Faktor kurikulum, kurikulum
merupakan pedoman bagi guru dan siswa dalam mengkoordinasikan tujuan dan
isi pelajaran. Pada faktor ini yang menjadi titik perhatian adalah bagai
mana merealialisasikan komponen metode dengan evaluasi,
- Faktor lingkungan, lingkungan
didalam intraksi belajar mengajar merupakan konteks terjadinya pengalaman
belajar.
Selain faktor diatas prestasi belajar juga dipengaruhi oleh:
1. Faktor dari dalam diri siswa (intern)
1. Faktor dari dalam diri siswa (intern)
Sehubungan dengan faktor intern ini ada tingkat yang perlu
dibahas menurut Slameto (1995 : 54) yaitu faktor jasmani, faktor psikologi dan
faktor kelelahan.
a.
Faktor Jasmani
Dalam faktor jasmaniah ini dapat dibagi menjadi dua yaitu
faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh.
b. Faktor kesehatan
Faktor kesehatan sangat berpengaruh terhadap proses belajar
siswa, jika kesehatan seseorang terganggu atau cepat lelah, kurang bersemangat,
mudah pusing, ngantuk, jika keadaan badannya lemah dan kurang darah ataupun ada
gangguan kelainan alat inderanya.
c. Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau
kurang sempurnanya mengenai tubuh atau badan. Cacat ini berupa buta, setengah
buta, tulis, patah kaki, patah tangan, lumpuh, dan lain-lain (Slameto, 2003 :
55).
d. Faktor psikologis
D.
Problem Guru
Istilah
problema/problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu "problematic"
yang artinya persoalan atau masalah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, problema
berarti hal yang belum dapat dipecahkan; yang menimbulkan masalah; permasalahan
(Partanto, 1994 : 276)
Menurut
Endang Porwanti (1994 : 20) menyatakan bahwa "problema/problematika adalah
suatu kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang diharapkan dapat
menyelesaikan atau dapat diperlukan atau dengan kata lain dapat mengurangi
kesenjangan itu."
Jadi,
problema adalah berbagai persoalan-persoalan sulit yang dihadapi dalam proses
pembelajaran, baik yang datang dari individu guru (faktor eksternal) maupun
dalam proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah (faktor intern).
BAB III
PRESTASI BELAJAR
DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
A.
Parsitipasi
Orang Tua
Siswa merupakan harapan dan kebanggaan dari
setiap orang yang diharapkan dapat berhasil di sekolah dengan baik. Oleh karena
itu, untuk mewujudkan harapan tersebut orang tua yang bijaksana akan selalu
mengikuti perkembangan serta berusaha mengetahui taraf kemampuan yang dimiliki
anaknya. Bagi orang tua yang tingkat pendidikannya rendah atau terlalu sibuk
dengan pekerjaannya, mungkin hal tersebut amat sulit dilakukan. Tetapi apabila
orang tua yang menyadari akan pentingnya partisipasi mereka terhadap
keberhasilan anaknya, akan dengan berbagai cara untuk mewujudkan tanggung
jawabnya dalam membimbing dan mengarahkan siswa agar dapat belajar dengan baik.
Orang tua tetap perlu memberikan kasih sayang
dan penghargaan agar dapat membentuk mental yang sehat supaya semangat belajar
anak tetap ada. Sebaliknya, orang tua yang kurang memberikan kasih sayang akan
menimbulkan rasa emosional pada anak dan akhirnya akan timbul rasa malas
belajar. Kasih sayang orang tua dapat diwujudkan dalam bentuk berusaha
meluangkan waktunya untuk berdialog, bergurau, berkomunikasi serta dapat
memenuhi kebutuhan lainnya selain kebutuhan sekolah (Mardanu, 1992).
Hasil penelitian Baker dan Stevenson
menunjukkan bahwa, peran atau partisipasi orang tua memberikan pengaruh baik
dan penilaian guru terhadap siswa. Orang tua mempunyai peran serta untuk ikut
menentukan inisiatif, aktivitas terstruktur di rumah untuk melengkapi
program-program pendidikan di sekolah sebagaimana yang terjadi di Indonesia.
Selain itu, juga dinyatakan bahwa jaringan komunikasi yang dibangun oleh orang
tua sangat penting dalam menentukan keberhasilan siswa di masyarakat.
Partisipasi orang
tua besar pengaruhnya terhadap proses belajar anak
dan prestasi belajar yang akan dicapai. Hal ini dipertegas oleh pernyataan
Slameto (1995) yang mengemukakan bahwa: ”Keluarga adalah lembaga pendidikan
yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan
dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran
besar, yaitu pendidikan bangsa, negara, dan dunia”.
Orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan
anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap proses belajar anaknya, tidak
memperhatikan sama sekali akan kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam belajar,
tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan atau melengkapi alat
belajar, tidak mau tahu bagaimana kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan
yang dialami anaknya dalam belajar dan lain-lain dapat menyebabkan anak kurang
atau bahkan tidak berhasil dalam belajarnya. Hasil yang didapatkan, nilai atau
prestasi belajarnya tidak akan memuaskan bahkan mungkin gagal dalam studinya.
Hal ini dapat terjadi pada anak dari keluarga yang kedua orang tuanya memang
tidak mencintai anaknya (Slameto, 1995).
Mendidik anak dengan cara memanjakan adalah
cara memperhatikan anak yang tidak baik. Orang tua yang terlalu kasihan pada
anaknya tidak akan sampai hati memaksa anaknya untuk belajar, bahkan mungkin
membiarkan saja jika anaknya tidak belajar dengan alasan segan adalah tindakan
yang tidak benar. Karena jika hal tersebut dibiarkan berlarut-larut, anak akan
menjadi nakal, berbuat seenaknya saja, pastilah belajarnya menjadi kacau.
Sebaliknya, mendidik anak dengan cara
memperlakukan secara keras, memaksa dan mengejar-ngejar anaknya untuk belajar
adalah cara memperhatikan anak yang juga salah. Dengan demikian, anak tersebut
diliputi ketakutan dan akhirnya benci dengan kegiatan belajar. Bahkan jika
ketakutan itu semakin serius, anak akan mengalami gangguan kejiwaan akibat dari
tekanan-tekanan tersebut. Orang tua yang demikian, biasanya menginginkan
anaknya mencapai prestasi belajar yang sangat baik, atau mereka mengetahui
bahwa anaknya bodoh tetapi tidak tahu apa yang menyebabkannya, sehingga anak
dikejar-kejar untuk mengatasi kekurangannya.
Dalam kejadian seperti ini, di sinilah guru
bimbingan dan penyuluhan (BP) memegang peranan penting. Anak atau siswa yang
mengalami kesukaran-kesukaran seperti yang telah diuraikan di atas dapat
ditolong dengan memberikan bimbingan belajar yang sebaik-baiknya. Tentu saja
keterlibatan orang tua akan sangat mempengaruhi keberhasilan bimbingan tersebut
(Slameto, 1995).
B.
Minat Belajar Siswa
Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas
belajar. Siswa yang berminat terhadap pelajaran, dia dengan
sungguh-sungguh seperti rajin belajar, merasa senang mengikuti penyajian
pelajaran, dan bahkan dapat menemukan kesulitan–kesulitan dalam belajar
menyelesaikan soal-soal dan latihan. Siswa akan mudah menghafal pelajaran yang
menarik minatnya. Minat berhubungan erat dengan motivasi. Motivasi muncul
karena adanya kebutuhan, begitu juga minat, sehingga tepatlah bila minat
merupakan alat motivasi. Proses belajar akan berjalan lancar bila disertai
minat. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa agar pelajaran
yang diberikan mudah siswa mengerti (Hasnawiyah, 1994).
Kondisi kejiwaan sangat dibutuhkan dalam proses
belajar mengajar. Itu berarti bahwa minat sebagai suatu aspek kejiwaan
melahirkan daya tarik tersendiri untuk memperhatikan suatu obyek tertentu.
Berdasarkan hasil penelitian psikologi
menunjukkan bahwa kurangnya minat belajar dapat mengakibatkan kurangnya rasa
ketertarikan pada suatu bidang tertentu, bahkan dapat melahirkan sikap
penolakan kepada guru (Slameto, 1995).
Minat merupakan salah satu faktor pokok untuk
meraih sukses dalam studi. Penelitian-penelitian di Amerika Serikat mengenai
salah satu sebab utama dari kegagalan studi para pelajar menunjukkan bahwa
penyebabnya adalah kekurangan minat (Gie, 1998).
Menurut Gie (1998), arti penting minat dalam
kaitannya dengan pelaksanaan studi adalah
1.
Minat melahirkan perhatian yang serta merta.
2.
Minat memudahnya terciptanya konsentrasi.
3.
Minat mencegah gangguan dari luar
4.
Minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran
dalam ingatan.
5.
Minat memperkecil kebosanan belajar belajar
dalam diri sendiri.
Minat melahirkan perhatian spontan yang
memungkinkan terciptanya konsentrasi untuk waktu yang lama dengan demikian,
minat merupakan landasan bagi konsentrasi. Minat bersifat sangat pribadi, orang
lain tidak bisa menumbuhkannya dalam diri siswa, tidak dapat memelihara dan
mengembangkan minat itu, serta tidak mungkin berminat terhadap sesuatu hal
sebagai wakil dari masing-masing siswa (Gie, 1995).
Minat dan perhatian dalam belajar mempunyai
hubungan yang erat sekali. Seseorang yang menaruh minat pada mata pelajaran
tertentu, biasanya cenderung untuk memperhatikan mata pelajaran tersebut.
Sebaliknya, bila seseorang menaruh perhatian secara kontinyu baik secara sadar
maupun tidak pada objek tertentu, biasanya dapat membangkitkan minat pada objek
tersebut.
Kalau seorang siswa mempunyai minat pada
pelajaran tertentu dia akan memperhatikannya. Namun sebaliknya jika siswa tidak
berminat, maka perhatian pada mata pelajaran yang sedang diajarkan biasanya dia
malas untuk mengerjakannya. Demikian juga dengan siswa yang tidak menaruh
perhatian yang pada mata pelajaran yang diajarkan, maka sukarlah diharapkan
siswa tersebut dapat belajar dengan baik. Hal ini tentu mempengaruhi hasil
belajarnya (Kartono, 1995).
Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu
pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal
lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas.
Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan
perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut.
Minat tidak dibawa sejak lahir melainkan
diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari sejak lahir melainkan
diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan mempengaruhi belajar
selanjutnya serta mempengaruhi penerimaan minat baru. Jadi minat terhadap
sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya walaupun
minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan hal yang hakiki untuk dapat
mempelajari hal tersebut.
Mengembangkan minat terhadap sesuatu pada
dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang
diharapkan untuk dipelajarinya dengan dirinya sendiri sebagai individu. Proses
ini berarti menunjukkan pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan
tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, memuaskan
kebutuhan-kebutuhannya. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat
untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting dan bila siswa melihat
bahwa dari hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya,
kemungkinan besar siswa akan berminat dan bermotivasi untuk mempelajarinya.
Dengan demikian perlu adanya usaha-usaha atau
pemikiran yang dapat memberikan solusi terhadap peningkatan minat belajar
siswa, utamanya dengan yang berkaitan dengan bidang studi biologi. Minat
sebagai aspek kewajiban bukan aspek bawaan, melainkan kondisi yang terbentuk
setelah dipengaruhi oleh lingkungan. Karena itu minat sifatnya berubah-ubah dan
sangat tergantung pada individunya.
Minat belajar dapat diingatkan melalui latihan
konsentrasi. Konsentrasi merupakan aktivitas jiwa untuk memperhatikan suatu
objek secara mendalam. Dapat dikatakan bahwa konsentrasi itu muncul jika
seseorang menaruh minat pada suatu objek, demikian pula sebaliknya merupakan
kondisi psikologis yang sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar di
sekolah. Kondisi tersebut amat penting sehingga konsentrasi yang baik akan
melahirkan sikap pemusatan perhatian yang tinggi terhadap objek yang sedang
dipelajari.
Minat sebagai salah satu aspek psikologis
dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang sifatnya dari dalam (internal)
maupun dari luar (eksternal). Dilihat dari dalam diri siswa, minat dipengaruhi
oleh cita-cita, kepuasan, kebutuhan, bakat dan kebiasaan. Sedangkan bila
dilihat dari faktor luarnya minat sifatnya tidak menetap melainkan dapat
berubah sesuai dengan kondisi lingkungan. Faktor luar tersebut dapat berupa
kelengkapan sarana dan prasarana, pergaulan dengan orang tua dan persepsi masyarakat
terhadap suatu objek serta latar belakang sosial budaya (Slameto, 1995).
Menurut Slameto (1995), faktor-faktor yang
berpengaruh di atas dapat diatasi oleh guru di sekolah dengan cara:
1.
Penyajian materi yang dirancang secara
sistematis, lebih praktis dan penyajiannya lebih berserni.
2.
Memberikan rangsangan kepada siswa agar menaruh
perhatian yang tinggi terhadap bidang studi yang sedang diajarkan.
3.
Mengembangkan kebiasaan yang teratur
4.
Meningkatkan kondisi fisik siswa.
5.
Memepertahankan cita-cita dan aspirasi siswa.
6.
Menyediakan sarana oenunjang yang memadai.
Minat belajar membentuk
sikap akademik tertentu yang bersifat sangat pribadi pada setiap siswa. Oleh
karena itu, minat belajar harus ditumbuhkan sendiri oleh masing-masing siswa.
Pihak lainnya hanya memperkuat dan menumbuhkan minat atau untuk memelihara
minat yang telah dimiliki seseorang (Loekmono, 1994).
Minat berkaitan dengan nilai-nilai tertentu. Oleh
karena itu, merenungkan nilai-nilai dalam aktivitas belajar sangat berguna
untuk membangkitkan minat. Misalnya belajar agar lulus ujian, menjadi juara,
ahli dalam salah satu ilmu, memenuhi rasa ingin tahu mendapatkan gelar atau
memperoleh pekerjaan. Dengan demikian minat belajar tidak perlu berangkat dari
nilai atau motivasi yang muluk-muluk. Bila minat belajar didapatkan pada
gilirannya akan menumbuhkan konsentrasi atau kesungguhan dalam belajar
(Sudarmono, 1994)
Loekmono (1994), mengemukakan 5 butir motif
yang penting yang dapat dijadikan alasan untuk mendorong tumbuhnya minat
belajar dalam diri seorang siswa yiatu :
1.
Suatu hasrat untuk memperoleh nilai-nilai yang
lebih baik dalam semua mata pelajaran.
2.
Suatu dorongan batin untuk memuaskan rasa ingin
tahu dalam satu atau lain bidang studi.
3.
Hasrat siswa untuk meningkatkan siswa dalam
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi.
4.
Hasrat siswa untuk menerima pujian dari orang
tua, guru atau teman-teman.
5.
Gambaran diri dimasa mendatang untuk meraih
sukses dalam suatu bidang khusus tertentu.
Beberapa langkah untuk menimbulkan minat
belajar menurut (Sudarnono, 1994), yaitu:
1.
Mengarahkan perhatian pada tujuan yang hendak
dicapai.
2.
Mengenai unsur-unsur permainan dalam aktivitas
belajar.
3.
Merencanakan aktivitas belajar dan mengikuti
rencana itu.
4.
Pastikan tujuan belajar saat itu misalnya;
menyelesaikan PR atau laporan.
5.
Dapatkan kepuasan setelah menyelesaikan jadwal
belajar.
6.
Bersikaplah positif di dalam menghadapi
kegiatan belajar.
7.
Melatih kebebasan emosi selama belajar.
C.
Bimbingan orang tua
Setiap manusia membutuhkan pendidikan. Pendidikan
tidak hanya bisa diperoleh dari lembaga formal tapi bisa juga lewat pendidikan
non formal. Anak atau bayi yang baru lahir pun ternyata sudah mengenyam
pendidikan yaitu menangis. Menangis adalah sebuah bukti bahwa berfungsinya
jasmani serta rohani bayi tersebut. Ketika umur mereka bertambah, mereka akan
memperoleh pendidikan melalui sekolah. Disana anak-anak akan belajar banyak
dari guru, teman-teman maupun lingkungan sekolah mereka. Meskipun anak-anak
telah bersekolah, orang tua tak lantas melepaskan tanggung jawabnya untuk tetap
mengawasi pergaulan anaknya dan membimbing serta mendampingi anaknya ketika
belajar di rumah.
Peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk
menunjang keberhasilan prestasi belajar anak. Orang tua hendaknya selalu
memperhatikan prestasi anaknya di sekolah. Jangan lupa bertanya tentang apa
saja yang anaknya lakukan di sekolah, bagaimana dengan pelajaran-pelajarannya
di sekolah, apakah menemui kesulitan atau tidak, dan lain-lain.
Tidak sedikit pula banyak kasus yang muncul bahwa
keberhasilan belajar atau prestasi
seorang anak juga sangat dipengaruhi oleh bimbingan orang tua. Ketika orang tua
senantiasa mengontrol proses kegiatan belajar anaknya, maka akan timbul di
dalam diri anak tersebut sebuah motivasi positif yang dapat mendorong untuk
rajin belajar. Anak tersebut juga tidak akan merasa sendirian dalam menanggung
beban pelajaran dan tugas sekolah karena disamping mereka selalu ada orang tua
yang mendampingi mereka.
Orang tua merupakan induk pembelajaran bagi
seorang anak karena keluarga adalah tempat pertama dan utama sebagai lingkungan
pendidikan anak. Untuk itu Orang tua mempunyai berkewajiban terhadap anaknya yakni :
1.
Menjaga berasal dari kata dasar ”jaga” yang
berarti mengawasi sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya. Ini berarti bahwa
orang tua haruslah merawat anaknya dengan sebaik-baiknya.
2.
Orang tua juga bertugas mengasuh anak. Dari
asal katanya ”asuh” yang berarti memelihara anak.
3.
Orang tua juga harus membimbing yang berasal
dari kata dasar ”bimbing” yang berarti memimpin, mengasuh atau menuntun.
Membimbing disini tidak hanya sebatas kegiatan di rumah saja. Akan tetapi orang
tua juga harus membimbing seorang anak dalam proses belajar di rumah.
Meskipun di sekolah sudah ada guru yang
membimbing mereka belajar, namun bimbingan dan semangat dari orang tua juga
perlu dalam proses belajar seorang anak. Karena lingkungan keluarga juga bisa
menciptakan suasana efektif dan efisien untuk mengulang mata pelajaran yang
telah diajarkan di sekolah. Bimbingan ini agaknya harus dilakukan secara terus
menerus agar anak mampu berprestasi dengan baik. Anak juga butuh dorongan
positif dari orang tua. Motivasi merupakan alasan atau dorongan yang bisa
membuat seseorang untuk melakukan sesuatu. Itulah sebagian cara untuk memberi
kekuatan mental pada anak.
Ada beberapa hal yang harus diperhatiakan oleh
orang tua dalam mendidik anak :
a.
Memahami Perilaku Anak sebagai Siswa
Orang tua secara tidak langsung akan melepaskan
seorang anak ketika anak tersebut langsung akan melepaskan pendidikan di
sekolah. Keluarga sebagai tempat pendidikan yang pertama dan utama telah mulai
ditinggalkan seorang anak meskipun tidak sepenuhnya. Ketika seorang anak mulai
terjun ke bangku sekolah, maka ia sudah mulai mengenal pendidikan di dalam
sekolah. Yang dimaksud pendidikan disini adalah upaya manusia dewasa membimbing
manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan atau usaha untuk menolong anak
untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya agar dapat mandiri, menjadi akil
baligh, dan bertanggung jawab secara susila dan sikap bertanggung jawab.
Secara garis besar manusia terdiri atas dua
aspek, yaitu aspek jasmani dan rohani. Aspek jasmani meliputi antara lain
tinggi dan besar badan, panca indera, anggota badan, kondisi dan peredaran
darah, dan lain-lain. Aspek rohani meliputi kecerdasan, bakat, kecakapan hasil
belajar, sikap, minat, motivasi, emosi dan perasaan, watak, kemampuan sosial,
dan lain-lain. Berdasarkan aspek-aspek itulah orang tua hendaknya bisa memahami
kondisi anak yang sudah bersekolah. Tidak jarang pula banyak anak yang kadang
jenuh atas beban-beban tugas sekolah yang ia hadapi. Disinilah peran orang tua
sangat penting untuk memberikan semangat dan mengembalikan gairah untuk
belajar. Misalnya saja ada contoh, ketika seorang anak sedang mengamuk atau
emosional yang mungkin dikarenakan oleh beban tugas-tugas sekolah, orang tua
tak lantas ikut mengamuk kepada anak tersebut. Akan tetapi orang tua hendaknya
membiarkan anak tersebut sebentar agar dia bisa menenangkan dirinya dan setelah
itu tanyalah secara baik-baik apa yang sebenarnya menyebabkan si anak tersebut
tiba-tiba mengamuk.
b.
Hal-hal yang Dihindari Orang Tua dalam
Mendampingi Anak Belajar
Banyak orang tua yang menginginkan anaknya
kelak sukses. Akan tetapi tidak sedikit pula cara-cara anak tersebut secara
tidak langsung. Bahkan banyak orang tua yang beranggapan bahwa harga diri
meraka terletak pada kesuksesan anak-anak mereka. Ini berarti, jika seorang
anak sukses maka orang tua akan merasa bangga dan tidak jarang pula para orang
tua akan memberikan cinta yang berlimpah dalam bentuk apapun. Tapi apabila
seorang anak gagal, orang tua akan merasa malu bahkan merasa anak tersebut
adalah aib untuk mereka. Berikut ini ada beberapa tanda bahaya yang harus
dihindari pada orang tua dalam membimbing anak belajar.
1.
Hindari Cinta Bersyarat pada Anak
Cinta bersyarat ini biasanya digunakan para
orang tua untuk mengendalikan anak-anak mereka. Ketika anak meraka berhasil,
mereka akan mengganjar keberhasilan tersebut dengan memberikan cinta mereka
secara bebas bahkan bisa diekspresikan dalam bentuk pelukan dan ciuman. Tapi
ketika anak mereka gagal. Mereka akan menghukum anak mereka sebagai luapan rasa
kekecewaan. Pada tahap cinta ini, anak-anak hanya akan beranggapan bahwa mereka
akan dicintai oleh orang tua atau semua orang lain, hanya jika sudah berhasil.
2.
Cinta Iming-Iming
Cinta iming-iming merupakan cinta bersyarat
yang lebih menyakitkan. Dimana cinta yang diberikan oleh orang tua ini, bukan
cinta yang menghargai seorang anak dalam mencapai kesuksesan dalam prestasi
belajar.
3.
Pengharapan Orang Tua yang Tidak Sehat
Dalam hal ini orang tua haruslah mengerti benar
apa itu target dan pengharapan. Target merupakan tujuan yang bisa atau tidak
bisa dicapai oleh anak-anak. Ketika target tercapai anak-anak mereka sangat
senang karena keberhasilan mereka bukan sesuatu yang pasti. Ketika target tidak
tercapai, anak-anak merasa agak kecewa, tapi biasanya mereka puas dengan
kemajuan yang berhasil mereka lakukan.
Pengharapan adalah asumsi bahwa sesuatu akan
tercapai. Sebuah kesalahan yang patut disayangkan yang banyak dilakukan orang
tua, adalah membuat penghargaan yang berbeda diluar kemampuan seorang anak.
Tentunnya pengharapan yang seperti ini akan merusak anak-anak jika pengharapan
tidak tercapai.
4.
Pujian dan Hukuman yang Tidak Sehat
Sebagai orang tua, hendaknya mampu memilih dan
memilah pujian dan hukuman terhadap prestasi belajar anak. Seorang anak yang
dipuji kepandaiannya, bukan usahanya, akan menjadi terlalu terpusat pada hasil.
Memuji anak-anak atas kepandaian mereka membuat mereka akan takut pada
kesulitan karena mereka mulai menyamakan kegagalan dengan kebodohan. Begitupun
cara orang tua menghukum anak. Orang tua lebih baik tidak memberikan kritik
pribadi yaitu menyalahkan kemampuan seorang anak sebagai penyebab kegagalan
mereka, menurunkan pengharapan mereka, memperlihatkan emosi negatif, dan
berprestasi lebih buruk di masa depan.
5.
Menjadi Orang Tua Target
Orang tua target yang dimaksud disini adalah
orang tua yang memperlakukan anak-anak mereka seperti ”pegawai-pegawai kecil”.
Biasanya orang tua yang seprrti ini akan mengharapkan anak-anak mereka untuk
berproduksi dalam bentuk prestasi dan keberhasilan. Jika hasil yang diinginkan
tidak terjadi, maka ”bos-bos” ini memperlihatkan rasa tidak suka mereka dan
anak-anak mereka menganggap bahwa orang tua mereka akan ”memecat” mereka.
Secara otomatis, orang tua yang seperti ini adalah orang tua yang menempatkan
penekanan yang terlalu besar pada hasil usaha berprestasi anak.
Itulah beberapa hal yang harus dihindari para
orang tua dalam membimbing anaknya belajar. Agaknya orang tua yang bijak
harusnya lebih mementingkan kemampuan yang secara alami ada pada diri anak
tersebut bukan mementingkan gengsi orang dan menaruh harapan-harapan semu pada
anak-anaknya.
c.
Hal-hal yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua
dalam Mendampingi Anak Belajar
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya
berhasil suatu saat di masa depan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan oleh orang tua agar memperoleh anaknya berhasil di masa depan.
Dorongan motivasi dan perhatian dari orang tua juga penting agar anak merasa
tidak sendiri dalam menghadapi masalah-masalah yang pasti akan terjadi dalam
proses belajar. Adapun hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Menghargai Cinta
Cinta adalah alat yang paling efektif untuk
mempengaruhi seorang anak. Sebagai orang tua sebaiknya menggunakan cinta nilai,
yaitu cinta yang tergantung pada kesediaan anak untuk berpegang teguh pada
nilai-nilai dasar dan untuk bertindak dengan cara-cara yang pantas dan etis
menurut norma sosial. Cinta nilai mendukung perkembangan nilai-nilai positif
dan perilaku bermoral, memupuk pertumbuhan yang sehat dan mendorong prestasi
serta kebahagiaan. Cara mendidik seorang anak yang efektif berpusat disekitar
cinta, cinta yang tidak serba membolehkan, cinta yang tidak menoleransi sikap
tak hormat, tapi juga cinta yang cukup besar untuk membiarkan anak-anak
melakukan kesalahan dan memperbolehkan mereka untuk hidup dalam konsekuensi
kesalahan itu.
2.
Pengharapan Orang Tua yang Sehat
Pengharapan yang positif dan memotivasi adalah
sesuatu yang menujukkan suatu kondisi dalam diri individu yaitu mendorong atau
menggerakkan individu tersebut melakukan kegiatan mencapai sesuatu tujuan.
Namun ketika anak semakin tumbuh dewasa, peran orang tua dalam menentukan
pengharapan harus berkurang dan keterlibatan anak harus meningkat. Saat seorang
anak tumbuh dewasa pun dan memperoleh pengalaman serta perspektif yang
diperlukan, pada saat itu orang tua perlu memberi si anak kebebasan untuk
membuat pengharapannya sendiri.
3.
Pujian dan Hukuman yang Sehat
Pujian juga memiliki andil yang cukup penting
agar anak mampu berprestasi. Namun alangkah lebih bijaknya bila seorang anak
dipuji karena usaha mereka yang juga memperlihatkan kegigihan dan kenikmatan
yang lebih tinggi, menganggap kurangnya usaha mereka sebagai penyebab kegagalan
mereka, dan mencapai hasil yang tinggi dalam kegiatan berprestasi selanjutnya
sehingga anak memiliki minat belajar yang lebih besar. Selain melontarkan
pujian, agaknya orang tua juga harus memberikan hukuman kepada anak, tentunya
dengan cara penuh jasih sayang dan dalam nada tenang dan dengan terfokus pada
cara anak bisa berbuat lebih baik dimasa depan dan bukan pada kesalahan yang
telah dilakukannya. Dengan cara seperti ini, seorang anak akan dengan jelas
mendengar pesan dari orang tua, merasakan perhatian dibalik pesan itu, dan
menyadari bahwa hukuman yang diberikan walau mungkin ia tidak menyukainya
adalah untuk kebaikannya sendiri.
4.
Berjuang Mencapai Keunggulan
Keunggulan adalah sebuah tujuan yang bisa
dicapai anak manapun. Dengan bekerja keras, seorang anak bisa mencapai suatu
tingkat keunggulan. Seorang anak tidak perlu sempurna, karena ia boleh saja
gagal. Sedikit kegagalan penting bagi anak karena memberikan pelajaran berharga
yang akan membantu perjuangannya mencapai keunggulan. Orang tua perlu mendorong
seorang anak untuk menerima dirinya apa adanya dan membebaskan dirinya untuk
hidup dengan cara produktif.
5.
Menciptakan Seorang Manusia
Setiap orang tua pasti bertujuan membesarkan
anaknya menjadi seorang manusia. Orang tua seharusnya membantu anak menjadi
orang yang bertanggung jawab dengan mencintai mereka bahwa melakukan kesalahan
adalah sesuatu yang wajar dan memperlihatkan bawah mereka dicintai meskipun
mereka menumpahkan agar-agar diatas karpet, atau mendapat nilai jelak, dan
lain-lain. Karena anak anda seorang manusia, harga dirinya tidak terancam
karena ia bulan perfeksionis, ia tidak takut gagal dan ia tidak takut
kehilangan cinta dari orang tua.
d.
Anjuran dan Pantangan bagi Orang Tua
Banyak orang tua yang memiliki bermacam-macam
motivasi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Sehingga tidak sedikit orang tua
yang berlomba-lomba sekuat tenaga menyekolahkan anak-anak mereka ke
sekolah-sekolah favorit bahkan mereka rela membayar meskipun mahalnya ”gak
ketulungan”. Agaknya hal seperti itu bukanlah selamnya hal yang positif.
Alangkah baiknya orang tua mengetahui apa saja anjuran dan pantangan sebagai
orang tua dalam mendampingi anak belajar.
1.
Anjuran Bagi Orang Tua
Dibawah ini merupakan beberapa anjuran bagi
orang tua dalam membimbing anak belajar :
a.
Berikan bimbingan kepada anak tapi jangan
memaksa atau menekan,
b.
Bantu anak dalam menentukan target prestasi
yang realistis,
c.
Tekankan kesenangan, pengembangan ketrampilan,
dan manfaat lain kegiatan berprestasi seperti motivasi, keyakinan, dan
lain-lain
d.
Perlihatkan minat terhadap kegiatan anak,
misalnya memberikan sarana, hadiri penampilannya, dan lain-lain,
e.
Berikan dukungan yang positif,
f.
Pahami bahwa kadang-kadang seorang anak mungkin
memerlukan istirahat dari kegiatannya,
g.
Pertahankan selera humor,
h.
Jadilah anutan yang sehat bagi anak,
i.
Beri anak cinta nilai, dan lain-lain
Itulah beberapa anjuran yang setidaknya bisa
dilakukan oleh orang tua dalam mendukung anaknya berprestasi.
2.
Pantangan bagi Orang Tua
Selain anjuran-anjuran yang sudah dipaparkan
sebelumnya, maka berikut ini adalah beberapa pantangan bagi orang tua :
a.
Jangan mengharapkan seorang anak memperoleh hal
lain dari kegiatannya disamping waktu yang menyenangkan, dan lain-lain
b.
Jangan memperlihatkan emosi negatif ketika
sedang menghadiri sebuah penampilan,
c.
Jangan buat seorang anak merasa bersalah atas
waktu, energi, dan uang yang orang tua gunakan,
d.
Jangan melihat kegiatan anak sebagai sebuah
investasi yang akan menghasilkan sesuatu,
e.
Jangan mewujudkan impian kita (orang tua)
sendiri melalui kegiatan seorang anak,
f.
Jangan membandingkan kemajuan anak dengan
kemajuan anak-anak lain,
g.
Jangan mendesak, melecehkan, menggunakan
sarkasme, mengancam, atau menggunakan rasa takut untuk memotivasi anak,
h.
Jangan mengharapkan apa pun dan anak kecuali
usaha terbaik dan perilakunya,
i.
Jangan pernah melakukan apapun yang akan
membuat anak memandang dirinya sendiri, atau orang tua.
Itulah beberapa pantangan yang seharusnya
diperhatikan oleh orang tua. Setidaknya para orang tua tahu bahwa tak selamanya
peringatan bahkan keinginan atau ambisi mereka tidak selalu benar untuk
kebaikan anak. Seorang anak apabila selalu ditekan maka dia akan memiliki
mental yang tidak sehat. Apalagi kalau dengan sederet peraturan yang mengekang
mereka. Sebagai orang tua yang membimbing anaknya agar berprestasi dengan baik
hendaknya selalu membedakan antara gengsi dengan kebutuhan orang tua.
D.
Status Sosial Ekonomi
Orang Tua
Status sosial ekonomi berasal dari tiga buah
kata yang memiliki makna yang berbeda-beda. status adalah penempatan orang pada
suatu jabatan tertentu sedangkan status sosial adalah sekumpulan hak dan
kewajian yang dimiliki seseorang manusia sebagai makluk sosial dalam
masyarakatnya sedangkan Ekonomi adalah berasal dari kata ekos dan nomos
yang berarti rumah tangga. Yang secara harfiah keadaan rumah tangga.
Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa status
sosial ekonomi merupakan faktor fisik yang dapat mempengaruhi hasil pada
anak-anak.
Dalam
lingkungan masyarakat kita melihat bahwa ada pembeda-bedaan yang berlaku dan
diterima secara luas oleh masyarakat. Di sekitar kita ada orang yang menempati
jabatan tinggi seperti gubernur dan wali kota dan jabatan rendah seperti camat
dan lurah. Di sekolah ada kepala sekolah dan ada staf sekolah. Di RT atau RW
kita ada orang kaya, orang biasa saja dan ada orang miskin.
Perbedaan itu tidak hanya muncul dari sisi
jabatan tanggung jawab sosial saja, namun juga terjadi akibat perbedaan ciri
fisik, keyakinan dan lain-lain. Perbedaan ras, suku, agama, pendidikan, jenis
kelamin, usia atau umur, kemampuan, tinggi badan, cakep jelek, dan lain
sebagainya juga membedakan manusia yang satu dengan yang lain.
Hurlock (1981) menyatakan bahwa masa kritis
pertumbuhan hasil belajar adalah pada usia sekolah dimana anak membentuk
kebiasaan untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Meskipun pada usia ini
hasil belajar akan mudah untuk dibentuk, seringkali proses pembentukan ini
dihalangi oleh faktor-faktor, baik internal maupun eksternal.Salah satu faktor
eksternal yang turut berperan dalam menghambat pembentukan hasil belajar adalah
SES. Siswa dengan SES rendah menjadi yakin bahwa dirinya tidak dapat berhasil
di sekolah. Selain itu, teman-teman dan saudara-saudara mereka juga tidak
pernah menyelesaikan sekolah sehingga bagi mereka merupakan masalah yang biasa
saja (Garcia, 1991 dalam Woolfolk, 1993)
Latar belakang siswa yang kurang menguntungkan
mungkin menjadi penyebab rendahnya tingkat kecerdasan mereka, tetapi mereka
tetap memiliki peluang untuk berhasil bila memiliki hasil yang tinggi untuk
belajar (Stipek dan Ryan, 1997). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil
belajar mencakup aspek budaya, keluarga, sekolah, dan pribadi siswa
(Wlodkowski, 1990).
Siswa dengan latar belakang yang kurang
beruntung hidup di tengah lingkungan kemiskinan yang tidak selalu mementingkan
pendidikan karena ada kebutuhan lain yang lebih didahulukan. Sikap orang tua
terhadap pendidikan anak serta permasalahan dalam keluarga sebagai akibat dari
permasalahan ekonomi juga menghambat anak dalam menumbuhkan hasil belajar.
Dari pengertian di atas maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan
ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang
yang status sosialnya rendah.
Seperti
biasanya di dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar
merupkan kegiatan paling cocok dilakukan oleh siswa. Hal ini berarrti bahwa
berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana
proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Dalam kegiatan
sehari hari di sekolah sering di hadapkan pada kenyataan bahwa walaupun siswa
diberi pelajaran ioleh guru dengan bahan pelajaran, waktu, tempat dan metode
pembelajaran yamng sama namun hasil yang diperoleh berbeda-beda.Hal itu
disebabkan karena banyak siswa yang mengalami hambatan-hamabatan dalam belajar,
baik dari dalam individu maupun dari luar individu, salah satu faktor yang
berasal dari luar individu adalah lingkungan keluarga. Seperti yang dikemukakan
oleh Mohamad Surya (1973:18) bahwa ”berhasil tidaknya suatu pembuatan ata
proses belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kematangan dan
lingkungan keluarga”.Dengan hal tersebut, kehidupan keluarga dan pengaruh
sosial Ekonomi perkembangan baik anak selanjutnya karena keluarga merupakan
lingkungan pendidikan pertama yang mempunyai peranan penting dalam menentukan
dan membina proses perkembangan anak. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan
bahwa masalah yang dialami siswa di sekolah merupakan akibat atau lanjutan dari
situasi lingkungan keluarga.Berdasarkan penjelasan diatas disimpulkan bahwa
pengaruh sosial Ekonomi mempunyai peranan penting dalam pencapaian prestasi
belajar anak.
faktor-faktor
yang dapat menimbulkan masalah kesulitan berasal dari dalam diri siswa dan
lingkungan keluarga.
1. Faktor-faktor yang bersumber dari
lingkungan keluarga
a. Keadaan ekonomi yang memadai
Hasil belajar yang baik tidak dapat diperoleh dengan
hanya mengandalkan keterangan-keterangan yan diberikan oleh guru di depan
kelas, tetapi membutuhkan jua alat-alat yang memadai seperti buku tulis,
pensil, peta, pena dan terlebih dahulu lagi buku bacaan. Sebagian besar alat-alat pelajaran itu harus disediakan sendiri
oleh murid-murid yang bersangkutan. Bagi orang tua yang keadaan ekonoominya
kurang memadai sudah barang tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
anaknya secara memuaskan. Apabila keadaan ini terjadi pada orang tua siswa,
maka siswa yang bersangkutan akan menanggung resiko-resiko yang tidak
diharapkan.
b.
Anak
kurang mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tuanya.
Pendidikan
tidak hanya berlansung di sekolah tetapi juga di dalam keluarga. Sayangnya,
masih ada orang tua yang beranggapan bahwa tugas mendidik hanyalah tugas
sekolah saja. Para orang tua seperti itu menganggap bahwa tugas mendidik
hanyalah tugas sekolah saja. Para orang tua seperti itu menganggap bahwa tugas
orang tua tidak lebih darisekedar mencukupi kebutuhan lahir anak: seperti
makan, minum, apakaian dan alat-alat pelajaran, serta kebutuhan-kebutuhan lain
yang bersifat kebendaan. Oleh sebab itu, para orang tua seperti ini selalu
sibuk dengan pekerjaannya sejak pagi sampai sore, bahkan ada juga sampai malam
untuk mendapatkan uang memperhatikan dan mengawasi anak-anaknya belajar dan
atau bermain.
c.
Harapan
orang tua terlalu tinggi.
Disamping
adanya orang tua yang kurang memperhatikan dan mengawasi anak-anaknya terdapat
pula orang tua yang meiliki pengharapan yang sangat tinggi anak-anaknya. Mereka
memaksa anak-anaknya untuk selalu rajin belajar dan memperoleh nilai tinggi
tanpa mempertimbangkan apakah anak memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk
melakaksanakan kegiatan-kegiatan belajar memperoleh nilai tinggi. Bagi
siswa-siswa yang ditakdirkan tidak memiliki kemampuan yang cukup tinggi dengan
sendirinya akan merasakan tugas-tugas dan harapan-harapan itu sebagai satu
siksaan, dan pada gilirannya dapat menimbulkan putus asa dan tak acuh lagi pada
siswa itiu sendiri.
d.
Orang
tua pilih kasih terhadap anak
Keadaan
anak dalam suatu keluarga selalu sama. Dengan kata lain, mereka dilahirkan
dengan membawa kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada mereka yang
dilahirkan dengan membawa potensi yang cukup tinggi, tetapu juga sebaliknya.
Ada anak yang dilahirkan sesuai yang diharapkan, tetapi juga yang ada yang
tidak demikian. Keadaan-keadaan ini rupanya tidak selalu diterima oleh sebagian
orang tua sebagai suatu kenyataan. Ada orang tua yang menolak anak yang
keadaanya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Penolakan ini memang tidak
dinyatakan terus terang, tetapi ditampilkan dalam bentuk-bentuk
perlakuan-perlakuan tertentu. Misalnya dengan melebih-lebihkan atau
menyanjung-nyanjung anak yang mereka anggap memenuhi harapan mereka, dan
mengabaikan atau mencela anak yang tidak harapkan.
e.
Hubungan
keluarga yang tidak harmonis.
Orang tua merupakan tumpuan harapan anak-anak.
Mereka mengharapkan pendidikan, bimbingan, kasih sayang dari orang tua agar
dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa. Harapan-harapan itu akan
mungkin terwujud apabila dalam keluarga itu terdapat hubungan yanng harmonis
antara yang satu dengan yang lain, yaitu antara ayah dan ibu, antara kedua
orang tua dengan anak-anaknya, dan antara anak dengan sesamanya. Apabila di
dalam suatu keluarga tidak terdapat hubungan yang harmonis; seperti ayah dan
ibu selalu cekcok, jarang tinggal rumah, anak akan merasa tidak aman dan tidak
dapat memutuskan perhatiannya dalam belajar. Hal ini karena proses belajar
memang menuntut ketenangan dan ketentraman di rumah.Berdasarkan uraian tersebut
di atas dengan demikian bahwa masalah yang dialami anak di rumah (lingkungan
keluarga) memiliki pemgaruh terhadap prestasi belajarnya di sekolah.
2. Faktor yang berasal dari diri siswaa.
a. Tingkat kecerdasan rendah
Tidak
diragukan lagi bahwa taraf kecerdasan atau kemampuan dasar merupakan salah satu
faktor penentu keberhasilan belajar. Kemampuan yang tinggi pada seseorang anak
memungkinkannya dapat menggunakan pikirannya untuk belajar dan memecahkan
persoalan-persoalan baru secara tepat, cepat dan berhasil. Sebaliknya tingkat
kemampuan yang rendah dapat mengakibatkan siswa mengalami kesulitan dalam
belajar.
b.
Kesehatan
sering terganggu
Belajar
tidak hanya melibatkan pikiran tetapi juga jasmaniah. Badan yang sring
sakit-sakitan, kurang vitamin, dan kurang gizi dapat membuat seseorang tidak
berdaya, tidak bersemangat dan tidak memiliki kemampauan dalam belajar, apabila
seseorang tidak bersemangat tidak memiliki kemampuan dalam belajar, maka besar
kemungkinan orang yang bersangkutan tidak dapat mencapai hasil belajar yang
maksimal.
c.
Alat
penghliatan dan pendengaran kurang berfungsi dengan baik.
Pengliehatan
dan pendengaran merupakan alat indra yang terpenting untk belajar. Apabila
mekanisme mata atau telinga kurang berfungsi, maka anggapan yang disampaikan
dari dunia luar umpamannya dari guru, tidak mungkin diterima oleh orang yang
bersangkutan. Oleh sebab itu, sidswa tidak dapat menerima dan memenuhi bahan-bahan
pelajaran, baik yang disampaikan langsung oleh guru mapun melalui buku-buku
bacaan.
d.
Gangguan
alat perseptual
Setelah
sesuatu pesan diterima oleh mata dan telinga, langkah berikutnya dalam belajar
dalam mengirimkan pesan itu ke otak, sehingga pesan itu dapat ditafsirkan.
Langkah-langkah tersebut disebut persepsi. Apa yang sebenarnya yang terjadi
dalam persepsi adalah proses pengelolahan tanggapan baru (yang diterima melalui
indera) dengan pertolongan ini akan menghasilkan dan memberikan arti atau makna
tertentu kepada tanggapan yang diterima. Tetapi, persepsi itu bisa juga salah,
akalau ada gangguan-gangguan pada alat perseptual. Dalam hal ini anggapan yang
diterima oleh alat indera tidak dapat diartikan sebagaimana mestinya.
e.
Tidak
menguasai cara-cara belajar yang baik
Kegagalan
belajar tidak semata-mata disebabkan oleh tinkat kecerdasan rendah atau karena
faktor-faktor kesehatan, tetapi juga disebabkan karena faktor-faktor kesehatan,
tetapi juga disebabkan karena tidak menguasai cara-cara belajar yang baik.
Ternyata terdapat huvbungan yang berarti antara cara-cara belajar yang dicapai.
Ini berarti bahwa siswa yang cara-cara belajarnya lebih baik cenderung
memperoleh hasilyang lebih baik pula, dan demikian juga sebaliknya, untuk
memungkinkan siswa dapat menerapkan cara-cara belajar yang baik, sejak dini
siswa hendaknya diperkenalkan dan dibiasakan menerapkan cara-cara belajar yang
baik dalam kehidupannya sehari-hari, baik di sekolah maupun dirumah.
E.
Kesulitan Belajar
Dalam belajar tidaklah selalu berhasil, tetapi
sering kali hal-hal yang mengakibatkan kegagalan atau setidak-tidaknya menjadi
gangguan yang menghambat kemajuan belajar. Kegagalan atau kesulitan belajar
biasanya ada hal atau faktor yang menyebabkannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan
belajar adalah (a). Faktor internal yaitu faktor yang datang dari dalam diri
sendiri, (b). Faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar diri seorang.
(Koestoer PartoWisastro, 1998).
1. Faktor
Internal
Faktor internal faktor internal adalah faktor
yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri, yang dapat dibedakan atas
beberapa faktor yaitu intelegensi, minat, bakat, dan kepribadian.
a.
Faktor Intelegensi
Intlegensi
ini dapat mempengaruhi kesulitan belajar seorang anak. Keberhasilan belajar
serang anak ditentukan dari tinggi rendahnya tingkat kecerdasan yang
dimilikinya, dimana seorang anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi
cendrung akan lebih berhasil dalam belajarnya dibandingkan dengan anak yang
intelegensinya rendah.
b.
Faktor Minat
Faktor minat dalam belajar sangat penting.
Hasil belajar akan lebih optimal bila disertai dengan minat. Dengan adanya
minat mendorong kearah keberhasialan, anak yang berminat terhadap suatu
pelajaran akan lebih mudah untuk mempelajarinya dan sebaliknya anak yang kurang
berminat akan mengalami kesulitan dalam belajarnya.
Dari pendapat tersebut di atas, dapat
disimpulkan bahwa minat sangat diperlukan dalam belajar, karena minat itu
sendiri sebagai pendorong dalam belajar dan sebaliknya anak yang kurang bermitat
terhadap belajarnya akan cenderung mengalami kesulitan dalam belajarnya.
c.
Faktor Bakat
Bakat ini dapat menyebabkan kesulitan belajar,
jika bakat ini kurang mendapatkan perhatian. Hal ini sesuai dengan pendapat
yang menjelaskan bahwa: bakat setiap orang berbeda-beda, orang tua
kadang-kadang tidak memperhatikan faktor bakat ini(Singgih Gunarsa, 1992). Anak
sering diarahkan sesuai dengan kemauan orang tuanya, akibatnya bagi anak
merupakan sesuatu beban, tekanan dan nilai-nilai yang ditetapkan oleh anak
buruk serta tidak ada kemauan lagi untuk belajar.
Dari pendapat tersebut, dapat dijelaskan bahwa
adanya pemaksaan dari orang tua didalam mengarahkan anak yang tidak sesuai
dengan bakatnya dapat membebani anak, memunculkan nilai-nilai yang kurang baik,
bahkan dirasakan menjadi tekanan bagi anak yang akhirnya akan berakibat kurang
baik terhadap belajar anak di sekolah.
d.
Faktor Kepribadian
Faktor kepribadian dapat menyebabkan kesulitan
belajar, jika tidak memperhatikan fase-fase perkembangan (kepribadian) seseorang.
Hal ini sebagaimana pendapatmenjelaskan bahwa: fase perkembangan kepribadian
seseorang tidak selalu sama (Ngalim Purwanto, 1992), Fase pembentuk kepribadian
ada beberapa fase yang harus dilalui. Seorang anak yang belum mencapai suatu
fase tertentu akan mengalami kesulitan dalam berbagai hal termasuk dalam hal
belajar.
Dari pendapat tersebut, menunjukkan bahwa tidak
semua fase-fase perkembangan (keperibadian) ini akan berjalan dengan begitu
saja tanpa menimbulkan masalah, malah ada fase tertentu yang menimbulkan
berbagai persoalan termasuk dalam hal kesulitan dalam belajar.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah merupakan faktor yang
datang dari luar diri individu. Faktor eksternal ini dapat di bedakan menjadi
tiga faktor yaitu 1). Faktor keluarga 2). Faktor sekolah 3). Faktor masyarakat.
a.
Faktor Keluarga
Peranan orang tua (kelurga) sebagai tempat yang
utama dan pertama didalam pembinaan dan pengembangan potensi anak-anaknya.
Namun tidak semua orang tua mampu melaksanakanya dengan penuh tanggung jawab.
Beberapa hal yang dapat menimbulkan persoalan
yang bersumber dari keluarga adalah seperti:
Ø Sikap orang tua
yag mengucilkan anaknya, tidak mepercayai, tidak adil dan tidak mau menerime
anaknya secara wajar,
Ø Broken home,
perceraian, percekcokan,
Ø Didikan yang
otoriter, terlalu lemah dan memanjakannya,
Ø Orang tua tidak
mengetahui kemampuan anaknya, sifat kepribadian, minat, bakat, dan sebagainya.(
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta : Rineka
Cipta, 1990), 4-5)
Ada beberapa aspek yang dapat menimbulkan
masalah kesulitan belajar seorang anak yaitu:
Ø Didikan orang
tua yang keliru,
Ø Suasana rumah
yang kurang aman dan kurang harmonis,
Ø Keadaan ekonomi
orang tua yang lemah(Ibid, 32)
Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan
bahwa yang dapat menimbulkan persoalan atau sumber permasalahan adalah sikap
orang tua yang mengucilkan anaknya, tidak mempercayai, tidak adil dan tidak mau
menerima anaknya secara wajar, broken home, perceraian, percekcokan dan orang
tua yang tidak tau kemampuan anaknya.
b.
Faktor Lingkungan Sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal
setelah keluarga dapat menjadi masalah pada umumnya, dan khususnya masalah
kesulitan belajar pada siswa.Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa:Lingkungan
sekolah dapat menjadikan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar seperti:
1). Cara
penyajian pelajaran kurang baik.
2). Hubungan
guru dan murid kurang harmonis.
3). Hubungan
antara burid dengan murid itu sendiri tidak baik
4). Bahan
pelajaran yang disajikan tidak dimengerti siswa, dan
5). Alat-alat
pelajaran yang tersedia kurang memadai(Ibid, 31.)
c.
Faktor Lingkungan Masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat sangat berperan di
dalam pembentukan kepribadian anak, termasuk pula kemampuan/ pengetahuannya.
Dimana lingkungan masyrakat yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik,
seperti: suka minum-minum minuman keras, penjudi dan sebagainya, dapat
menghambat pembentukam kepribadiaan dan kemampuan, termasuk pula dalam proses
belajar mengajar seorang anak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah
dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan
keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang
kegiatan tertentu.
2.
Guru telah berupaya
bagaimana anak yang didiknya berhasil. Akan tetapi, keinginan tersebut sangat
sulit dibuktikan untuk semua siswa. Supaya terwujud keinginan tersebut
keterlibatan wali murid (orang tua)
dalam membimbing anak sangat penting dalam mencapai prestasi anak.
3.
Minat merupakan salah satu
unsur kejiwaan yang datang dari hati nurani siswa. Tanpa minat, sebuah
pekerjaan (proses) tidak akan berjalan lancar bahkan menjadi suatu penghamabat.
Minat (rasa ingin tau) anak terhadap pelajaran merupakan modal utama dalam mencapai
prestasi anak.
4.
Pretasi anak bisa tercapai
tidak cukup dengan tenaga dan pikiran saja, akan tetapi ekonomi (biaya)
merupakan salah satu unsur yang terpenting dalam meraih sebuah prestasi.
5. Lingkungan
masyarakat dapat mempengaruhi kesulitan belajar anak antara laian:
a.
Mass Media, seperti bioskop, televisi, radio,
surat kabar, majalah, komik
b.
Corak Kehidupan tetangga, seperti orang
terpelajar dan cendekiawan, tetangga yang suka berjudi, pencuri, peminum, dan
sebagainya.
B.
Saran
Upaya memyempurnaan
makalah ini telah dilakukan semaksimal mungkin, akan tetapi masih banyak
kekurangan, baik dari segi bahasa, susunan kalimat dan penjabaran dan
pembahasan yang kurang sempurna.
Penulis menyadari
kekurangan tersebut, untuk itu saran dan keritikan untuk kesempurnaan makalah
ini sangat diharapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar