Sabtu, 28 November 2015

BAB I
PENDAHULUAN

A.                             A. Laatar Belakang Masalah

Guru  Sebagai seorang pendidik yang memahami fungsi dan tugasnya, guru khususnya ia dibekali dengan berbagai ilmu keguruan sebagai dasar, disertai pula dengan seperangkat latihan keterampilan keguruan dan pada kondisi itu pula ia belajar memersosialisasikan sikap keguruan yang diperlukannya. Seorang yang berpribadi khusus yakni ramuan dari pengetahuan sikap danm keterampilan keguruan yang akan ditransformasikan kepada anak didik atau siswanya.
Seorang guru baru dikatakan sempurna jika fungsinya sebagai pendidik dan juga berfungsi sebagai pembimbing. Dalam hal ini pembimbing yang memiliki sarana dan serangkaian usaha dalam memajukan pendidikan. Seorang guru menjadi pendidik yang sekaligus sebagai seorang pembimbing. Contohnya guru sebagai pendidik dan pengajar sering kali akan melakukan pekerjaan bimbingan, seperti bimbingan belajar tentang keterampilan dan sebagainya dan untuk lebih jelasnya proses pendidikan kegiatan mendidik, mengajar dan membimbing sebagai yang taka dapat dipisahkan.
Seperti biasanya di dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar merupkan kegiatan paling cocok dilakukan oleh siswa. Hal ini berarrti bahwa berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Dalam kegiatan sehari hari di sekolah sering di hadapkan pada kenyataan bahwa walaupun siswa diberi pelajaran oleh guru dengan bahan pelajaran, waktu, tempat dan metode pembelajaran yamng sama namun hasil yang diperoleh berbeda-beda. Hal itu disebabkan karena banyak siswa yang mengalami hambatan-hamabatan dalam belajar, baik dari dalam individu maupun dari luar individu.
Seperti yang dikemukakan oleh Slamento (1995:18) bahwa ”berhasil tidaknya suatu pembuatan ata proses belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kematangan dan lingkungan keluarga”.Dengan hal tersebut, kehidupan keluarga dan pengaruh sosial Ekonomi perkembangan baik anak selanjutnya karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang mempunyai peranan penting dalam menentukan dan membina proses perkembangan anak. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bahwa masalah yang dialami siswa di sekolah merupakan akibat atau lanjutan dari situasi lingkungan keluarga.Berdasarkan penjelasan diatas disimpulkan bahwa pengaruh sosial Ekonomi mempunyai peranan penting dalam pencapaian prestasi belajar anak.
Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan semakin mengalami kemajuan.
Sejalan dengan kemajuan tersebut, maka dewasa ini pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu terjadi karena terdorong adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaranpun guru selalu ingin menemukan metode dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi semua siswa. Bahkan secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidi kan yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan d bidang pendidikan barulah ada artinya apabila dalam pendidiakn dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang membangun.
Pada hakekatnya kegiatan beiajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar menganjar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran.
Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebeh efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut.
Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan rnembangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdikbud (1999).
Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.
Prestasi belajar merupakan kecakapan nyata siswa mencapai materi pelajaran tertentu sesuai kurikulum dan kriteria penelitian yang mempunyai tujuan dan hasil yang harapan yaitu dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan.Pretasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dalam dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Pretasi yangdicapai siswa pada hakekatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan mengadakan penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk rnengetahui sejauh mana siswa telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan prestasi belajar mengajar di sekolah. Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapat diartikan bahwa tercapai atau tidaknya prestasi belajar berpengauh pada faktor penghambat dan pendukung.
B.     Rumusan Masalah
 Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:
a.       Apa yang dimaksud dengan prestasi belajar ?
b.      Apa saja fator interen yang mempengaruhi prestasi belaja ?
c.       Apa saja faktor ekstern yang mempengaruhi prestasi belajar ?
C.    Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan disusunnya malah ini adalah :
a.       Untuk mengetahui pengertian prestasi belajar.
b.      Untuk mengetahui faktor intern yang mempengaruhi prestasi belajar
c.       Untuk mengetahui faktor ekstern yang mempengaruhi pretasi belajar
D.    Manfaat
 Manfaat yang diharapkan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.       Sebagai bahan informasi bagi para guru, bahwa perbedaan tingkat pretasi anak didik dalam satu sekolah karena dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern.
b.      Sebagai bahan informasi bagi penulis lain yang akan menulis hal-hal yang relevan dengan isi makalah ini.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.       Pengertian belajar
Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata, 1984:252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya.
Sedangkan Pengertian Belajar menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
Moh. Surya (1981:32), definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dari beberapa pengertian belajar di atas maka dapat disimpulkan bahwa semua aktivitas mental atau psikis yang dilakukan oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar.



B.        Pengertia Prestasi Belajar
Pengertian Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar. Antara kata prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum pengertian prestasi belajar, ada baiknya pembahasan ini diarahkan pada masing-masing permasalahan terlebih dahulu untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh mengenai makna kata prestasi dan belajar. Hal ini juga untuk memudahkan dalam memahami lebih mendalam tentang pengertian prestasi belajar itu sendiri. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian prestasi dan belajar menurut para ahli.
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok (Djamarah, 1994:19). Sedangkan menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar dalam Djamarah (1994:21) bahwa prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas, jelas terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.
Menurut Slameto (1995 : 2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakekat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu. Sedangkan menurut Nurkencana (1986 : 62) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.
C.     Macam-macam Faktor Pengaruh.
Pelaksanaan proses belajar mengajar selayaknya berpegang pada apa yang tergantung dalam perencanaan pembelajaran. Selanjutnya diterbitkan oleh Depdiknas ( 2004 : 6 ) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi PBM tersebut antara lain :
  1. Faktor guru, pada faktor ini yang perlu mendapat perhatian adalah keterampilan mengajar, metode yang tepat dalam mengelola tahapan pembelajaran. Didalam intraksi belajar mengajar guru harus memiliki keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, memanfaatkan metode, mengunakan media dan mengalokasikan waktu yang untuk mengkomunikasikan tindakan mengajarnya demi tercapainya tujuan pembelajaran di sekolah. 
  2. Faktor  siswa, siswa adalah subyek yang belajar atau yang disebut pembelajar. Pada faktor siswa yang harus diperhatikan adalah karakteristik umum maupun khusus, karateristik umum dari siswa adalah usia yang dikategorikan kedalam 
Ø  Usia anak-anak yaitu usia pra sekolah dasar ( 4- 11 tahun); 
Ø  Usia sekolah lanjutan pertama ( 12-14 tahun ) atau usia pubertas dari setiap siswa; 
Ø  Usia sekolah lanjutan atas ( 15-17 tahun ) atau usia mencari identitas diri. Adapun karakteristik siswa secara khusus dapat dilihat dapat dilihat dari berbagai sudut antara lain dari sudut lain, dari sudut gaya belajar yang mencakup belajar dengan mengunakan visual,, dengan cara mendengar (auditorial) dan dengan cara bergerak atau kinestetik ( Suprayekti, 2004 : 11 ), 
  1. Faktor kurikulum, kurikulum merupakan pedoman bagi guru dan siswa dalam mengkoordinasikan tujuan dan isi pelajaran. Pada faktor ini yang menjadi titik perhatian adalah bagai mana merealialisasikan komponen metode dengan evaluasi, 
  2. Faktor lingkungan, lingkungan didalam intraksi belajar mengajar merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar.
Selain faktor diatas prestasi belajar juga dipengaruhi oleh:
1.   Faktor dari dalam diri siswa (intern)
Sehubungan dengan faktor intern ini ada tingkat yang perlu dibahas menurut Slameto (1995 : 54) yaitu faktor jasmani, faktor psikologi dan faktor kelelahan.
a.    Faktor Jasmani
Dalam faktor jasmaniah ini dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh.
b.    Faktor kesehatan
Faktor kesehatan sangat berpengaruh terhadap proses belajar siswa, jika kesehatan seseorang terganggu atau cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk, jika keadaan badannya lemah dan kurang darah ataupun ada gangguan kelainan alat inderanya.
c.       Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurnanya mengenai tubuh atau badan. Cacat ini berupa buta, setengah buta, tulis, patah kaki, patah tangan, lumpuh, dan lain-lain (Slameto, 2003 : 55).
d.      Faktor psikologis
Dapat berupa intelegensi, perhatian, bakat, minat, motivasi, kematangan, kesiapan.
D.    Problem Guru
Istilah problema/problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu "problematic" yang artinya persoalan atau masalah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, problema berarti hal yang belum dapat dipecahkan; yang menimbulkan masalah; permasalahan (Partanto, 1994 : 276)
Menurut Endang Porwanti (1994 : 20) menyatakan bahwa "problema/problematika adalah suatu kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang diharapkan dapat menyelesaikan atau dapat diperlukan atau dengan kata lain dapat mengurangi kesenjangan itu."
Jadi, problema adalah berbagai persoalan-persoalan sulit yang dihadapi dalam proses pembelajaran, baik yang datang dari individu guru (faktor eksternal) maupun dalam proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah (faktor intern).
























BAB III
PRESTASI BELAJAR
DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

A.    Parsitipasi Orang Tua
Siswa merupakan harapan dan kebanggaan dari setiap orang yang diharapkan dapat berhasil di sekolah dengan baik. Oleh karena itu, untuk mewujudkan harapan tersebut orang tua yang bijaksana akan selalu mengikuti perkembangan serta berusaha mengetahui taraf kemampuan yang dimiliki anaknya. Bagi orang tua yang tingkat pendidikannya rendah atau terlalu sibuk dengan pekerjaannya, mungkin hal tersebut amat sulit dilakukan. Tetapi apabila orang tua yang menyadari akan pentingnya partisipasi mereka terhadap keberhasilan anaknya, akan dengan berbagai cara untuk mewujudkan tanggung jawabnya dalam membimbing dan mengarahkan siswa agar dapat belajar dengan baik.
Orang tua tetap perlu memberikan kasih sayang dan penghargaan agar dapat membentuk mental yang sehat supaya semangat belajar anak tetap ada. Sebaliknya, orang tua yang kurang memberikan kasih sayang akan menimbulkan rasa emosional pada anak dan akhirnya akan timbul rasa malas belajar. Kasih sayang orang tua dapat diwujudkan dalam bentuk berusaha meluangkan waktunya untuk berdialog, bergurau, berkomunikasi serta dapat memenuhi kebutuhan lainnya selain kebutuhan sekolah (Mardanu, 1992).
Hasil penelitian Baker dan Stevenson menunjukkan bahwa, peran atau partisipasi orang tua memberikan pengaruh baik dan penilaian guru terhadap siswa. Orang tua mempunyai peran serta untuk ikut menentukan inisiatif, aktivitas terstruktur di rumah untuk melengkapi program-program pendidikan di sekolah sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Selain itu, juga dinyatakan bahwa jaringan komunikasi yang dibangun oleh orang tua sangat penting dalam menentukan keberhasilan siswa di masyarakat.
Partisipasi orang tua besar pengaruhnya terhadap proses belajar anak dan prestasi belajar yang akan dicapai. Hal ini dipertegas oleh pernyataan Slameto (1995) yang mengemukakan bahwa: ”Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk pendidikan dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan untuk pendidikan dalam ukuran besar, yaitu pendidikan bangsa, negara, dan dunia”.
Orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap proses belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan atau melengkapi alat belajar, tidak mau tahu bagaimana kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan yang dialami anaknya dalam belajar dan lain-lain dapat menyebabkan anak kurang atau bahkan tidak berhasil dalam belajarnya. Hasil yang didapatkan, nilai atau prestasi belajarnya tidak akan memuaskan bahkan mungkin gagal dalam studinya. Hal ini dapat terjadi pada anak dari keluarga yang kedua orang tuanya memang tidak mencintai anaknya (Slameto, 1995).
Mendidik anak dengan cara memanjakan adalah cara memperhatikan anak yang tidak baik. Orang tua yang terlalu kasihan pada anaknya tidak akan sampai hati memaksa anaknya untuk belajar, bahkan mungkin membiarkan saja jika anaknya tidak belajar dengan alasan segan adalah tindakan yang tidak benar. Karena jika hal tersebut dibiarkan berlarut-larut, anak akan menjadi nakal, berbuat seenaknya saja, pastilah belajarnya menjadi kacau.
Sebaliknya, mendidik anak dengan cara memperlakukan secara keras, memaksa dan mengejar-ngejar anaknya untuk belajar adalah cara memperhatikan anak yang juga salah. Dengan demikian, anak tersebut diliputi ketakutan dan akhirnya benci dengan kegiatan belajar. Bahkan jika ketakutan itu semakin serius, anak akan mengalami gangguan kejiwaan akibat dari tekanan-tekanan tersebut. Orang tua yang demikian, biasanya menginginkan anaknya mencapai prestasi belajar yang sangat baik, atau mereka mengetahui bahwa anaknya bodoh tetapi tidak tahu apa yang menyebabkannya, sehingga anak dikejar-kejar untuk mengatasi kekurangannya.
Dalam kejadian seperti ini, di sinilah guru bimbingan dan penyuluhan (BP) memegang peranan penting. Anak atau siswa yang mengalami kesukaran-kesukaran seperti yang telah diuraikan di atas dapat ditolong dengan memberikan bimbingan belajar yang sebaik-baiknya. Tentu saja keterlibatan orang tua akan sangat mempengaruhi keberhasilan bimbingan tersebut (Slameto, 1995).
B.     Minat Belajar Siswa
Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar. Siswa yang berminat terhadap pelajaran, dia dengan  sungguh-sungguh seperti  rajin belajar, merasa senang mengikuti penyajian pelajaran, dan bahkan dapat menemukan kesulitan–kesulitan dalam belajar menyelesaikan soal-soal dan latihan. Siswa akan mudah menghafal pelajaran yang menarik minatnya. Minat berhubungan erat dengan motivasi. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga minat, sehingga tepatlah bila minat merupakan alat motivasi. Proses belajar akan berjalan lancar bila disertai minat. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa agar pelajaran yang diberikan mudah siswa mengerti (Hasnawiyah, 1994).
Kondisi kejiwaan sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Itu berarti bahwa minat sebagai suatu aspek kejiwaan melahirkan daya tarik tersendiri untuk memperhatikan suatu obyek tertentu.
Berdasarkan hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa kurangnya minat belajar dapat mengakibatkan kurangnya rasa ketertarikan pada suatu bidang tertentu, bahkan dapat melahirkan sikap penolakan kepada guru (Slameto, 1995).
Minat merupakan salah satu faktor pokok untuk meraih sukses dalam studi. Penelitian-penelitian di Amerika Serikat mengenai salah satu sebab utama dari kegagalan studi para pelajar menunjukkan bahwa penyebabnya adalah kekurangan minat (Gie, 1998).
Menurut Gie (1998), arti penting minat dalam kaitannya dengan pelaksanaan studi adalah
1.      Minat melahirkan perhatian yang serta merta.
2.      Minat memudahnya terciptanya konsentrasi.
3.      Minat mencegah gangguan dari luar
4.      Minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan.
5.      Minat memperkecil kebosanan belajar belajar dalam diri sendiri.
Minat melahirkan perhatian spontan yang memungkinkan terciptanya konsentrasi untuk waktu yang lama dengan demikian, minat merupakan landasan bagi konsentrasi. Minat bersifat sangat pribadi, orang lain tidak bisa menumbuhkannya dalam diri siswa, tidak dapat memelihara dan mengembangkan minat itu, serta tidak mungkin berminat terhadap sesuatu hal sebagai wakil dari masing-masing siswa (Gie, 1995).
Minat dan perhatian dalam belajar mempunyai hubungan yang erat sekali. Seseorang yang menaruh minat pada mata pelajaran tertentu, biasanya cenderung untuk memperhatikan mata pelajaran tersebut. Sebaliknya, bila seseorang menaruh perhatian secara kontinyu baik secara sadar maupun tidak pada objek tertentu, biasanya dapat membangkitkan minat pada objek tersebut.
Kalau seorang siswa mempunyai minat pada pelajaran tertentu dia akan memperhatikannya. Namun sebaliknya jika siswa tidak berminat, maka perhatian pada mata pelajaran yang sedang diajarkan biasanya dia malas untuk mengerjakannya. Demikian juga dengan siswa yang tidak menaruh perhatian yang pada mata pelajaran yang diajarkan, maka sukarlah diharapkan siswa tersebut dapat belajar dengan baik. Hal ini tentu mempengaruhi hasil belajarnya (Kartono, 1995).
Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subjek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut.
Minat tidak dibawa sejak lahir melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari sejak lahir melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi penerimaan minat baru. Jadi minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya walaupun minat terhadap sesuatu hal tidak merupakan hal yang hakiki untuk  dapat mempelajari hal tersebut.
Mengembangkan minat terhadap sesuatu pada dasarnya adalah membantu siswa melihat bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajarinya dengan dirinya sendiri sebagai individu. Proses ini berarti menunjukkan pada siswa bagaimana pengetahuan atau kecakapan tertentu mempengaruhi dirinya, melayani tujuan-tujuannya, memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Bila siswa menyadari bahwa belajar merupakan suatu alat untuk mencapai beberapa tujuan yang dianggapnya penting dan bila siswa melihat bahwa dari hasil dari pengalaman belajarnya akan membawa kemajuan pada dirinya, kemungkinan besar siswa akan berminat dan bermotivasi untuk mempelajarinya.
Dengan demikian perlu adanya usaha-usaha atau pemikiran yang dapat memberikan solusi terhadap peningkatan minat belajar siswa, utamanya dengan yang berkaitan dengan bidang studi biologi. Minat sebagai aspek kewajiban bukan aspek bawaan, melainkan kondisi yang terbentuk setelah dipengaruhi oleh lingkungan. Karena itu minat sifatnya berubah-ubah dan sangat tergantung pada individunya.
Minat belajar dapat diingatkan melalui latihan konsentrasi. Konsentrasi merupakan aktivitas jiwa untuk memperhatikan suatu objek secara mendalam. Dapat dikatakan bahwa konsentrasi itu muncul jika seseorang menaruh minat pada suatu objek, demikian pula sebaliknya merupakan kondisi psikologis yang sangat dibutuhkan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kondisi tersebut amat penting sehingga konsentrasi yang baik akan melahirkan sikap pemusatan perhatian yang tinggi terhadap objek yang sedang dipelajari.
Minat sebagai salah satu aspek psikologis dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang sifatnya dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Dilihat dari dalam diri siswa, minat dipengaruhi oleh cita-cita, kepuasan, kebutuhan, bakat dan kebiasaan. Sedangkan bila dilihat dari faktor luarnya minat sifatnya tidak menetap melainkan dapat berubah sesuai dengan kondisi lingkungan. Faktor luar tersebut dapat berupa kelengkapan sarana dan prasarana, pergaulan dengan orang tua dan persepsi masyarakat terhadap suatu objek serta latar belakang sosial budaya (Slameto, 1995).
Menurut Slameto (1995), faktor-faktor yang berpengaruh di atas dapat diatasi oleh guru di sekolah dengan cara:
1.      Penyajian materi yang dirancang secara sistematis, lebih praktis dan penyajiannya lebih berserni.
2.      Memberikan rangsangan kepada siswa agar menaruh perhatian yang tinggi terhadap bidang studi yang sedang diajarkan.
3.      Mengembangkan kebiasaan yang teratur
4.      Meningkatkan kondisi fisik siswa.
5.      Memepertahankan cita-cita dan aspirasi siswa.
6.      Menyediakan sarana oenunjang yang memadai.
Minat belajar membentuk sikap akademik tertentu yang bersifat sangat pribadi pada setiap siswa. Oleh karena itu, minat belajar harus ditumbuhkan sendiri oleh masing-masing siswa. Pihak lainnya hanya memperkuat dan menumbuhkan minat atau untuk memelihara minat yang telah dimiliki seseorang (Loekmono, 1994).
Minat berkaitan dengan nilai-nilai tertentu. Oleh karena itu, merenungkan nilai-nilai dalam aktivitas belajar sangat berguna untuk membangkitkan minat. Misalnya belajar agar lulus ujian, menjadi juara, ahli dalam salah satu ilmu, memenuhi rasa ingin tahu mendapatkan gelar atau memperoleh pekerjaan. Dengan demikian minat belajar tidak perlu berangkat dari nilai atau motivasi yang muluk-muluk. Bila minat belajar didapatkan pada gilirannya akan menumbuhkan konsentrasi atau kesungguhan dalam belajar (Sudarmono, 1994)
Loekmono (1994), mengemukakan 5 butir motif yang penting yang dapat dijadikan alasan untuk mendorong tumbuhnya minat belajar dalam diri seorang siswa yiatu :
1.         Suatu hasrat untuk memperoleh nilai-nilai yang lebih baik dalam semua mata pelajaran.
2.         Suatu dorongan batin untuk memuaskan rasa ingin tahu dalam satu atau lain bidang studi.
3.         Hasrat siswa untuk meningkatkan siswa dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi.
4.         Hasrat siswa untuk menerima pujian dari orang tua, guru atau teman-teman.
5.         Gambaran diri dimasa mendatang untuk meraih sukses dalam suatu bidang khusus tertentu.
Beberapa langkah untuk menimbulkan minat belajar menurut (Sudarnono, 1994), yaitu:
1.         Mengarahkan perhatian pada tujuan yang hendak dicapai.
2.         Mengenai unsur-unsur permainan dalam aktivitas belajar.
3.         Merencanakan aktivitas belajar dan mengikuti rencana itu.
4.         Pastikan tujuan belajar saat itu misalnya; menyelesaikan PR atau laporan.
5.         Dapatkan kepuasan setelah menyelesaikan jadwal belajar.
6.         Bersikaplah positif di dalam menghadapi kegiatan belajar.
7.         Melatih kebebasan emosi selama belajar.
C.    Bimbingan orang tua
Setiap manusia membutuhkan pendidikan. Pendidikan tidak hanya bisa diperoleh dari lembaga formal tapi bisa juga lewat pendidikan non formal. Anak atau bayi yang baru lahir pun ternyata sudah mengenyam pendidikan yaitu menangis. Menangis adalah sebuah bukti bahwa berfungsinya jasmani serta rohani bayi tersebut. Ketika umur mereka bertambah, mereka akan memperoleh pendidikan melalui sekolah. Disana anak-anak akan belajar banyak dari guru, teman-teman maupun lingkungan sekolah mereka. Meskipun anak-anak telah bersekolah, orang tua tak lantas melepaskan tanggung jawabnya untuk tetap mengawasi pergaulan anaknya dan membimbing serta mendampingi anaknya ketika belajar di rumah.
Peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan prestasi belajar anak. Orang tua hendaknya selalu memperhatikan prestasi anaknya di sekolah. Jangan lupa bertanya tentang apa saja yang anaknya lakukan di sekolah, bagaimana dengan pelajaran-pelajarannya di sekolah, apakah menemui kesulitan atau tidak, dan lain-lain.
Tidak sedikit pula banyak kasus yang muncul bahwa keberhasilan belajar atau prestasi seorang anak juga sangat dipengaruhi oleh bimbingan orang tua. Ketika orang tua senantiasa mengontrol proses kegiatan belajar anaknya, maka akan timbul di dalam diri anak tersebut sebuah motivasi positif yang dapat mendorong untuk rajin belajar. Anak tersebut juga tidak akan merasa sendirian dalam menanggung beban pelajaran dan tugas sekolah karena disamping mereka selalu ada orang tua yang mendampingi mereka.
Orang tua merupakan induk pembelajaran bagi seorang anak karena keluarga adalah tempat pertama dan utama sebagai lingkungan pendidikan anak. Untuk itu Orang tua mempunyai  berkewajiban terhadap anaknya yakni :
1.      Menjaga berasal dari kata dasar ”jaga” yang berarti mengawasi sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya. Ini berarti bahwa orang tua haruslah merawat anaknya dengan sebaik-baiknya.
2.      Orang tua juga bertugas mengasuh anak. Dari asal katanya ”asuh” yang berarti memelihara anak.
3.      Orang tua juga harus membimbing yang berasal dari kata dasar ”bimbing” yang berarti memimpin, mengasuh atau menuntun. Membimbing disini tidak hanya sebatas kegiatan di rumah saja. Akan tetapi orang tua juga harus membimbing seorang anak dalam proses belajar di rumah.
Meskipun di sekolah sudah ada guru yang membimbing mereka belajar, namun bimbingan dan semangat dari orang tua juga perlu dalam proses belajar seorang anak. Karena lingkungan keluarga juga bisa menciptakan suasana efektif dan efisien untuk mengulang mata pelajaran yang telah diajarkan di sekolah. Bimbingan ini agaknya harus dilakukan secara terus menerus agar anak mampu berprestasi dengan baik. Anak juga butuh dorongan positif dari orang tua. Motivasi merupakan alasan atau dorongan yang bisa membuat seseorang untuk melakukan sesuatu. Itulah sebagian cara untuk memberi kekuatan mental pada anak.
Ada beberapa hal yang harus diperhatiakan oleh orang tua dalam mendidik anak :
a.       Memahami Perilaku Anak sebagai Siswa 
Orang tua secara tidak langsung akan melepaskan seorang anak ketika anak tersebut langsung akan melepaskan pendidikan di sekolah. Keluarga sebagai tempat pendidikan yang pertama dan utama telah mulai ditinggalkan seorang anak meskipun tidak sepenuhnya. Ketika seorang anak mulai terjun ke bangku sekolah, maka ia sudah mulai mengenal pendidikan di dalam sekolah. Yang dimaksud pendidikan disini adalah upaya manusia dewasa membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan atau usaha untuk menolong anak untuk melaksanakan tugas-tugas hidupnya agar dapat mandiri, menjadi akil baligh, dan bertanggung jawab secara susila dan sikap bertanggung jawab.
Secara garis besar manusia terdiri atas dua aspek, yaitu aspek jasmani dan rohani. Aspek jasmani meliputi antara lain tinggi dan besar badan, panca indera, anggota badan, kondisi dan peredaran darah, dan lain-lain. Aspek rohani meliputi kecerdasan, bakat, kecakapan hasil belajar, sikap, minat, motivasi, emosi dan perasaan, watak, kemampuan sosial, dan lain-lain. Berdasarkan aspek-aspek itulah orang tua hendaknya bisa memahami kondisi anak yang sudah bersekolah. Tidak jarang pula banyak anak yang kadang jenuh atas beban-beban tugas sekolah yang ia hadapi. Disinilah peran orang tua sangat penting untuk memberikan semangat dan mengembalikan gairah untuk belajar. Misalnya saja ada contoh, ketika seorang anak sedang mengamuk atau emosional yang mungkin dikarenakan oleh beban tugas-tugas sekolah, orang tua tak lantas ikut mengamuk kepada anak tersebut. Akan tetapi orang tua hendaknya membiarkan anak tersebut sebentar agar dia bisa menenangkan dirinya dan setelah itu tanyalah secara baik-baik apa yang sebenarnya menyebabkan si anak tersebut tiba-tiba mengamuk.
b.      Hal-hal yang Dihindari Orang Tua dalam Mendampingi Anak Belajar  
Banyak orang tua yang menginginkan anaknya kelak sukses. Akan tetapi tidak sedikit pula cara-cara anak tersebut secara tidak langsung. Bahkan banyak orang tua yang beranggapan bahwa harga diri meraka terletak pada kesuksesan anak-anak mereka. Ini berarti, jika seorang anak sukses maka orang tua akan merasa bangga dan tidak jarang pula para orang tua akan memberikan cinta yang berlimpah dalam bentuk apapun. Tapi apabila seorang anak gagal, orang tua akan merasa malu bahkan merasa anak tersebut adalah aib untuk mereka. Berikut ini ada beberapa tanda bahaya yang harus dihindari pada orang tua dalam membimbing anak belajar.
1.      Hindari Cinta Bersyarat pada Anak
Cinta bersyarat ini biasanya digunakan para orang tua untuk mengendalikan anak-anak mereka. Ketika anak meraka berhasil, mereka akan mengganjar keberhasilan tersebut dengan memberikan cinta mereka secara bebas bahkan bisa diekspresikan dalam bentuk pelukan dan ciuman. Tapi ketika anak mereka gagal. Mereka akan menghukum anak mereka sebagai luapan rasa kekecewaan. Pada tahap cinta ini, anak-anak hanya akan beranggapan bahwa mereka akan dicintai oleh orang tua atau semua orang lain, hanya jika sudah berhasil.
2.      Cinta Iming-Iming
Cinta iming-iming merupakan cinta bersyarat yang lebih menyakitkan. Dimana cinta yang diberikan oleh orang tua ini, bukan cinta yang menghargai seorang anak dalam mencapai kesuksesan dalam prestasi belajar.
3.      Pengharapan Orang Tua yang Tidak Sehat
Dalam hal ini orang tua haruslah mengerti benar apa itu target dan pengharapan. Target merupakan tujuan yang bisa atau tidak bisa dicapai oleh anak-anak. Ketika target tercapai anak-anak mereka sangat senang karena keberhasilan mereka bukan sesuatu yang pasti. Ketika target tidak tercapai, anak-anak merasa agak kecewa, tapi biasanya mereka puas dengan kemajuan yang berhasil mereka lakukan.
Pengharapan adalah asumsi bahwa sesuatu akan tercapai. Sebuah kesalahan yang patut disayangkan yang banyak dilakukan orang tua, adalah membuat penghargaan yang berbeda diluar kemampuan seorang anak. Tentunnya pengharapan yang seperti ini akan merusak anak-anak jika pengharapan tidak tercapai.
4.      Pujian dan Hukuman yang Tidak Sehat
Sebagai orang tua, hendaknya mampu memilih dan memilah pujian dan hukuman terhadap prestasi belajar anak. Seorang anak yang dipuji kepandaiannya, bukan usahanya, akan menjadi terlalu terpusat pada hasil. Memuji anak-anak atas kepandaian mereka membuat mereka akan takut pada kesulitan karena mereka mulai menyamakan kegagalan dengan kebodohan. Begitupun cara orang tua menghukum anak. Orang tua lebih baik tidak memberikan kritik pribadi yaitu menyalahkan kemampuan seorang anak sebagai penyebab kegagalan mereka, menurunkan pengharapan mereka, memperlihatkan emosi negatif, dan berprestasi lebih buruk di masa depan.
5.      Menjadi Orang Tua Target
Orang tua target yang dimaksud disini adalah orang tua yang memperlakukan anak-anak mereka seperti ”pegawai-pegawai kecil”. Biasanya orang tua yang seprrti ini akan mengharapkan anak-anak mereka untuk berproduksi dalam bentuk prestasi dan keberhasilan. Jika hasil yang diinginkan tidak terjadi, maka ”bos-bos” ini memperlihatkan rasa tidak suka mereka dan anak-anak mereka menganggap bahwa orang tua mereka akan ”memecat” mereka. Secara otomatis, orang tua yang seperti ini adalah orang tua yang menempatkan penekanan yang terlalu besar pada hasil usaha berprestasi anak.
Itulah beberapa hal yang harus dihindari para orang tua dalam membimbing anaknya belajar. Agaknya orang tua yang bijak harusnya lebih mementingkan kemampuan yang secara alami ada pada diri anak tersebut bukan mementingkan gengsi orang dan menaruh harapan-harapan semu pada anak-anaknya.
c.       Hal-hal yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua dalam Mendampingi Anak Belajar 
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya berhasil suatu saat di masa depan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua agar memperoleh anaknya berhasil di masa depan. Dorongan motivasi dan perhatian dari orang tua juga penting agar anak merasa tidak sendiri dalam menghadapi masalah-masalah yang pasti akan terjadi dalam proses belajar. Adapun hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:
1.       Menghargai Cinta
Cinta adalah alat yang paling efektif untuk mempengaruhi seorang anak. Sebagai orang tua sebaiknya menggunakan cinta nilai, yaitu cinta yang tergantung pada kesediaan anak untuk berpegang teguh pada nilai-nilai dasar dan untuk bertindak dengan cara-cara yang pantas dan etis menurut norma sosial. Cinta nilai mendukung perkembangan nilai-nilai positif dan perilaku bermoral, memupuk pertumbuhan yang sehat dan mendorong prestasi serta kebahagiaan. Cara mendidik seorang anak yang efektif berpusat disekitar cinta, cinta yang tidak serba membolehkan, cinta yang tidak menoleransi sikap tak hormat, tapi juga cinta yang cukup besar untuk membiarkan anak-anak melakukan kesalahan dan memperbolehkan mereka untuk hidup dalam konsekuensi kesalahan itu.
2.      Pengharapan Orang Tua yang Sehat
Pengharapan yang positif dan memotivasi adalah sesuatu yang menujukkan suatu kondisi dalam diri individu yaitu mendorong atau menggerakkan individu tersebut melakukan kegiatan mencapai sesuatu tujuan. Namun ketika anak semakin tumbuh dewasa, peran orang tua dalam menentukan pengharapan harus berkurang dan keterlibatan anak harus meningkat. Saat seorang anak tumbuh dewasa pun dan memperoleh pengalaman serta perspektif yang diperlukan, pada saat itu orang tua perlu memberi si anak kebebasan untuk membuat pengharapannya sendiri.
3.      Pujian dan Hukuman yang Sehat
Pujian juga memiliki andil yang cukup penting agar anak mampu berprestasi. Namun alangkah lebih bijaknya bila seorang anak dipuji karena usaha mereka yang juga memperlihatkan kegigihan dan kenikmatan yang lebih tinggi, menganggap kurangnya usaha mereka sebagai penyebab kegagalan mereka, dan mencapai hasil yang tinggi dalam kegiatan berprestasi selanjutnya sehingga anak memiliki minat belajar yang lebih besar. Selain melontarkan pujian, agaknya orang tua juga harus memberikan hukuman kepada anak, tentunya dengan cara penuh jasih sayang dan dalam nada tenang dan dengan terfokus pada cara anak bisa berbuat lebih baik dimasa depan dan bukan pada kesalahan yang telah dilakukannya. Dengan cara seperti ini, seorang anak akan dengan jelas mendengar pesan dari orang tua, merasakan perhatian dibalik pesan itu, dan menyadari bahwa hukuman yang diberikan walau mungkin ia tidak menyukainya adalah untuk kebaikannya sendiri.
4.      Berjuang Mencapai Keunggulan
Keunggulan adalah sebuah tujuan yang bisa dicapai anak manapun. Dengan bekerja keras, seorang anak bisa mencapai suatu tingkat keunggulan. Seorang anak tidak perlu sempurna, karena ia boleh saja gagal. Sedikit kegagalan penting bagi anak karena memberikan pelajaran berharga yang akan membantu perjuangannya mencapai keunggulan. Orang tua perlu mendorong seorang anak untuk menerima dirinya apa adanya dan membebaskan dirinya untuk hidup dengan cara produktif.
5.      Menciptakan Seorang Manusia
Setiap orang tua pasti bertujuan membesarkan anaknya menjadi seorang manusia. Orang tua seharusnya membantu anak menjadi orang yang bertanggung jawab dengan mencintai mereka bahwa melakukan kesalahan adalah sesuatu yang wajar dan memperlihatkan bawah mereka dicintai meskipun mereka menumpahkan agar-agar diatas karpet, atau mendapat nilai jelak, dan lain-lain. Karena anak anda seorang manusia, harga dirinya tidak terancam karena ia bulan perfeksionis, ia tidak takut gagal dan ia tidak takut kehilangan cinta dari orang tua.
d.      Anjuran dan Pantangan bagi Orang Tua 
Banyak orang tua yang memiliki bermacam-macam motivasi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Sehingga tidak sedikit orang tua yang berlomba-lomba sekuat tenaga menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah favorit bahkan mereka rela membayar meskipun mahalnya ”gak ketulungan”. Agaknya hal seperti itu bukanlah selamnya hal yang positif. Alangkah baiknya orang tua mengetahui apa saja anjuran dan pantangan sebagai orang tua dalam mendampingi anak belajar.
1.      Anjuran Bagi Orang Tua
Dibawah ini merupakan beberapa anjuran bagi orang tua dalam membimbing anak belajar :
a.          Berikan bimbingan kepada anak tapi jangan memaksa atau menekan,
b.         Bantu anak dalam menentukan target prestasi yang realistis,
c.          Tekankan kesenangan, pengembangan ketrampilan, dan manfaat lain kegiatan berprestasi seperti motivasi, keyakinan, dan lain-lain
d.         Perlihatkan minat terhadap kegiatan anak, misalnya memberikan sarana, hadiri penampilannya, dan lain-lain,
e.          Berikan dukungan yang positif,
f.          Pahami bahwa kadang-kadang seorang anak mungkin memerlukan istirahat dari kegiatannya,
g.         Pertahankan selera humor,
h.         Jadilah anutan yang sehat bagi anak,
i.           Beri anak cinta nilai, dan lain-lain
Itulah beberapa anjuran yang setidaknya bisa dilakukan oleh orang tua dalam mendukung anaknya berprestasi.
2.      Pantangan bagi Orang Tua
Selain anjuran-anjuran yang sudah dipaparkan sebelumnya, maka berikut ini adalah beberapa pantangan bagi orang tua :
a.       Jangan mengharapkan seorang anak memperoleh hal lain dari kegiatannya disamping waktu yang menyenangkan, dan lain-lain
b.      Jangan memperlihatkan emosi negatif ketika sedang menghadiri sebuah penampilan,
c.       Jangan buat seorang anak merasa bersalah atas waktu, energi, dan uang yang orang tua gunakan,
d.      Jangan melihat kegiatan anak sebagai sebuah investasi yang akan menghasilkan sesuatu,
e.       Jangan mewujudkan impian kita (orang tua) sendiri melalui kegiatan seorang anak,
f.       Jangan membandingkan kemajuan anak dengan kemajuan anak-anak lain,
g.      Jangan mendesak, melecehkan, menggunakan sarkasme, mengancam, atau menggunakan rasa takut untuk memotivasi anak,
h.      Jangan mengharapkan apa pun dan anak kecuali usaha terbaik dan perilakunya,
i.        Jangan pernah melakukan apapun yang akan membuat anak memandang dirinya sendiri, atau orang tua.
Itulah beberapa pantangan yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua. Setidaknya para orang tua tahu bahwa tak selamanya peringatan bahkan keinginan atau ambisi mereka tidak selalu benar untuk kebaikan anak. Seorang anak apabila selalu ditekan maka dia akan memiliki mental yang tidak sehat. Apalagi kalau dengan sederet peraturan yang mengekang mereka. Sebagai orang tua yang membimbing anaknya agar berprestasi dengan baik hendaknya selalu membedakan antara gengsi dengan kebutuhan orang tua.
D.    Status Sosial Ekonomi Orang Tua
Status sosial ekonomi berasal dari tiga buah kata yang memiliki makna yang berbeda-beda. status adalah penempatan orang pada suatu jabatan tertentu sedangkan status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang manusia sebagai makluk sosial dalam masyarakatnya sedangkan Ekonomi adalah  berasal dari kata ekos dan nomos yang berarti rumah tangga. Yang secara harfiah keadaan rumah tangga.
Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa status sosial ekonomi merupakan faktor fisik yang dapat mempengaruhi hasil pada anak-anak.
 Dalam lingkungan masyarakat kita melihat bahwa ada pembeda-bedaan yang berlaku dan diterima secara luas oleh masyarakat. Di sekitar kita ada orang yang menempati jabatan tinggi seperti gubernur dan wali kota dan jabatan rendah seperti camat dan lurah. Di sekolah ada kepala sekolah dan ada staf sekolah. Di RT atau RW kita ada orang kaya, orang biasa saja dan ada orang miskin.
Perbedaan itu tidak hanya muncul dari sisi jabatan tanggung jawab sosial saja, namun juga terjadi akibat perbedaan ciri fisik, keyakinan dan lain-lain. Perbedaan ras, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin, usia atau umur, kemampuan, tinggi badan, cakep jelek, dan lain sebagainya juga membedakan manusia yang satu dengan yang lain.
Hurlock (1981) menyatakan bahwa masa kritis pertumbuhan hasil belajar adalah pada usia sekolah dimana anak membentuk kebiasaan untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Meskipun pada usia ini hasil belajar akan mudah untuk dibentuk, seringkali proses pembentukan ini dihalangi oleh faktor-faktor, baik internal maupun eksternal.Salah satu faktor eksternal yang turut berperan dalam menghambat pembentukan hasil belajar adalah SES. Siswa dengan SES rendah menjadi yakin bahwa dirinya tidak dapat berhasil di sekolah. Selain itu, teman-teman dan saudara-saudara mereka juga tidak pernah menyelesaikan sekolah sehingga bagi mereka merupakan masalah yang biasa saja (Garcia, 1991 dalam Woolfolk, 1993)
Latar belakang siswa yang kurang menguntungkan mungkin menjadi penyebab rendahnya tingkat kecerdasan mereka, tetapi mereka tetap memiliki peluang untuk berhasil bila memiliki hasil yang tinggi untuk belajar (Stipek dan Ryan, 1997). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar mencakup aspek budaya, keluarga, sekolah, dan pribadi siswa (Wlodkowski, 1990). 
Siswa dengan latar belakang yang kurang beruntung hidup di tengah lingkungan kemiskinan yang tidak selalu mementingkan pendidikan karena ada kebutuhan lain yang lebih didahulukan. Sikap orang tua terhadap pendidikan anak serta permasalahan dalam keluarga sebagai akibat dari permasalahan ekonomi juga menghambat anak dalam menumbuhkan hasil belajar.
Dari pengertian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.
Seperti biasanya di dalam proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar mengajar merupkan kegiatan paling cocok dilakukan oleh siswa. Hal ini berarrti bahwa berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Dalam kegiatan sehari hari di sekolah sering di hadapkan pada kenyataan bahwa walaupun siswa diberi pelajaran ioleh guru dengan bahan pelajaran, waktu, tempat dan metode pembelajaran yamng sama namun hasil yang diperoleh berbeda-beda.Hal itu disebabkan karena banyak siswa yang mengalami hambatan-hamabatan dalam belajar, baik dari dalam individu maupun dari luar individu, salah satu faktor yang berasal dari luar individu adalah lingkungan keluarga. Seperti yang dikemukakan oleh Mohamad Surya (1973:18) bahwa ”berhasil tidaknya suatu pembuatan ata proses belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kematangan dan lingkungan keluarga”.Dengan hal tersebut, kehidupan keluarga dan pengaruh sosial Ekonomi perkembangan baik anak selanjutnya karena keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang mempunyai peranan penting dalam menentukan dan membina proses perkembangan anak. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bahwa masalah yang dialami siswa di sekolah merupakan akibat atau lanjutan dari situasi lingkungan keluarga.Berdasarkan penjelasan diatas disimpulkan bahwa pengaruh sosial Ekonomi mempunyai peranan penting dalam pencapaian prestasi belajar anak.
faktor-faktor yang dapat menimbulkan masalah kesulitan berasal dari dalam diri siswa dan lingkungan keluarga.
1.     Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan keluarga
a.   Keadaan ekonomi yang memadai
Hasil belajar yang baik tidak dapat diperoleh dengan hanya mengandalkan keterangan-keterangan yan diberikan oleh guru di depan kelas, tetapi membutuhkan jua alat-alat yang memadai seperti buku tulis, pensil, peta, pena dan terlebih dahulu lagi buku bacaan. Sebagian besar alat-alat pelajaran itu harus disediakan sendiri oleh murid-murid yang bersangkutan. Bagi orang tua yang keadaan ekonoominya kurang memadai sudah barang tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya secara memuaskan. Apabila keadaan ini terjadi pada orang tua siswa, maka siswa yang bersangkutan akan menanggung resiko-resiko yang tidak diharapkan.
b.      Anak kurang mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tuanya.
Pendidikan tidak hanya berlansung di sekolah tetapi juga di dalam keluarga. Sayangnya, masih ada orang tua yang beranggapan bahwa tugas mendidik hanyalah tugas sekolah saja. Para orang tua seperti itu menganggap bahwa tugas mendidik hanyalah tugas sekolah saja. Para orang tua seperti itu menganggap bahwa tugas orang tua tidak lebih darisekedar mencukupi kebutuhan lahir anak: seperti makan, minum, apakaian dan alat-alat pelajaran, serta kebutuhan-kebutuhan lain yang bersifat kebendaan. Oleh sebab itu, para orang tua seperti ini selalu sibuk dengan pekerjaannya sejak pagi sampai sore, bahkan ada juga sampai malam untuk mendapatkan uang memperhatikan dan mengawasi anak-anaknya belajar dan atau bermain.
c.       Harapan orang tua terlalu tinggi.
Disamping adanya orang tua yang kurang memperhatikan dan mengawasi anak-anaknya terdapat pula orang tua yang meiliki pengharapan yang sangat tinggi anak-anaknya. Mereka memaksa anak-anaknya untuk selalu rajin belajar dan memperoleh nilai tinggi tanpa mempertimbangkan apakah anak memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk melakaksanakan kegiatan-kegiatan belajar memperoleh nilai tinggi. Bagi siswa-siswa yang ditakdirkan tidak memiliki kemampuan yang cukup tinggi dengan sendirinya akan merasakan tugas-tugas dan harapan-harapan itu sebagai satu siksaan, dan pada gilirannya dapat menimbulkan putus asa dan tak acuh lagi pada siswa itiu sendiri.
d.      Orang tua pilih kasih terhadap anak
Keadaan anak dalam suatu keluarga selalu sama. Dengan kata lain, mereka dilahirkan dengan membawa kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada mereka yang dilahirkan dengan membawa potensi yang cukup tinggi, tetapu juga sebaliknya. Ada anak yang dilahirkan sesuai yang diharapkan, tetapi juga yang ada yang tidak demikian. Keadaan-keadaan ini rupanya tidak selalu diterima oleh sebagian orang tua sebagai suatu kenyataan. Ada orang tua yang menolak anak yang keadaanya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Penolakan ini memang tidak dinyatakan terus terang, tetapi ditampilkan dalam bentuk-bentuk perlakuan-perlakuan tertentu. Misalnya dengan melebih-lebihkan atau menyanjung-nyanjung anak yang mereka anggap memenuhi harapan mereka, dan mengabaikan atau mencela anak yang tidak harapkan.
e.       Hubungan keluarga yang tidak harmonis.
 Orang tua merupakan tumpuan harapan anak-anak. Mereka mengharapkan pendidikan, bimbingan, kasih sayang dari orang tua agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa. Harapan-harapan itu akan mungkin terwujud apabila dalam keluarga itu terdapat hubungan yanng harmonis antara yang satu dengan yang lain, yaitu antara ayah dan ibu, antara kedua orang tua dengan anak-anaknya, dan antara anak dengan sesamanya. Apabila di dalam suatu keluarga tidak terdapat hubungan yang harmonis; seperti ayah dan ibu selalu cekcok, jarang tinggal rumah, anak akan merasa tidak aman dan tidak dapat memutuskan perhatiannya dalam belajar. Hal ini karena proses belajar memang menuntut ketenangan dan ketentraman di rumah.Berdasarkan uraian tersebut di atas dengan demikian bahwa masalah yang dialami anak di rumah (lingkungan keluarga) memiliki pemgaruh terhadap prestasi belajarnya di sekolah.
2.   Faktor yang berasal dari diri siswaa.
a.   Tingkat kecerdasan rendah
Tidak diragukan lagi bahwa taraf kecerdasan atau kemampuan dasar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar. Kemampuan yang tinggi pada seseorang anak memungkinkannya dapat menggunakan pikirannya untuk belajar dan memecahkan persoalan-persoalan baru secara tepat, cepat dan berhasil. Sebaliknya tingkat kemampuan yang rendah dapat mengakibatkan siswa mengalami kesulitan dalam belajar.
b.      Kesehatan sering terganggu
Belajar tidak hanya melibatkan pikiran tetapi juga jasmaniah. Badan yang sring sakit-sakitan, kurang vitamin, dan kurang gizi dapat membuat seseorang tidak berdaya, tidak bersemangat dan tidak memiliki kemampauan dalam belajar, apabila seseorang tidak bersemangat tidak memiliki kemampuan dalam belajar, maka besar kemungkinan orang yang bersangkutan tidak dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.
c.       Alat penghliatan dan pendengaran kurang berfungsi dengan baik.
Pengliehatan dan pendengaran merupakan alat indra yang terpenting untk belajar. Apabila mekanisme mata atau telinga kurang berfungsi, maka anggapan yang disampaikan dari dunia luar umpamannya dari guru, tidak mungkin diterima oleh orang yang bersangkutan. Oleh sebab itu, sidswa tidak dapat menerima dan memenuhi bahan-bahan pelajaran, baik yang disampaikan langsung oleh guru mapun melalui buku-buku bacaan.
d.      Gangguan alat perseptual
Setelah sesuatu pesan diterima oleh mata dan telinga, langkah berikutnya dalam belajar dalam mengirimkan pesan itu ke otak, sehingga pesan itu dapat ditafsirkan. Langkah-langkah tersebut disebut persepsi. Apa yang sebenarnya yang terjadi dalam persepsi adalah proses pengelolahan tanggapan baru (yang diterima melalui indera) dengan pertolongan ini akan menghasilkan dan memberikan arti atau makna tertentu kepada tanggapan yang diterima. Tetapi, persepsi itu bisa juga salah, akalau ada gangguan-gangguan pada alat perseptual. Dalam hal ini anggapan yang diterima oleh alat indera tidak dapat diartikan sebagaimana mestinya.
e.       Tidak menguasai cara-cara belajar yang baik
Kegagalan belajar tidak semata-mata disebabkan oleh tinkat kecerdasan rendah atau karena faktor-faktor kesehatan, tetapi juga disebabkan karena faktor-faktor kesehatan, tetapi juga disebabkan karena tidak menguasai cara-cara belajar yang baik. Ternyata terdapat huvbungan yang berarti antara cara-cara belajar yang dicapai. Ini berarti bahwa siswa yang cara-cara belajarnya lebih baik cenderung memperoleh hasilyang lebih baik pula, dan demikian juga sebaliknya, untuk memungkinkan siswa dapat menerapkan cara-cara belajar yang baik, sejak dini siswa hendaknya diperkenalkan dan dibiasakan menerapkan cara-cara belajar yang baik dalam kehidupannya sehari-hari, baik di sekolah maupun dirumah.
E.     Kesulitan Belajar
Dalam belajar tidaklah selalu berhasil, tetapi sering kali hal-hal yang mengakibatkan kegagalan atau setidak-tidaknya menjadi gangguan yang menghambat kemajuan belajar. Kegagalan atau kesulitan belajar biasanya ada hal atau faktor yang menyebabkannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar adalah (a). Faktor internal yaitu faktor yang datang dari dalam diri sendiri, (b). Faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar diri seorang. (Koestoer PartoWisastro, 1998).
1.   Faktor Internal
Faktor internal faktor internal adalah faktor yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri, yang dapat dibedakan atas beberapa faktor yaitu intelegensi, minat, bakat, dan kepribadian.
a.       Faktor Intelegensi
Intlegensi ini dapat mempengaruhi kesulitan belajar seorang anak. Keberhasilan belajar serang anak ditentukan dari tinggi rendahnya tingkat kecerdasan yang dimilikinya, dimana seorang anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi cendrung akan lebih berhasil dalam belajarnya dibandingkan dengan anak yang intelegensinya rendah.
b.      Faktor Minat
Faktor minat dalam belajar sangat penting. Hasil belajar akan lebih optimal bila disertai dengan minat. Dengan adanya minat mendorong kearah keberhasialan, anak yang berminat terhadap suatu pelajaran akan lebih mudah untuk mempelajarinya dan sebaliknya anak yang kurang berminat akan mengalami kesulitan dalam belajarnya.
Dari pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa minat sangat diperlukan dalam belajar, karena minat itu sendiri sebagai pendorong dalam belajar dan sebaliknya anak yang kurang bermitat terhadap belajarnya akan cenderung mengalami kesulitan dalam belajarnya.
c.        Faktor Bakat
Bakat ini dapat menyebabkan kesulitan belajar, jika bakat ini kurang mendapatkan perhatian. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menjelaskan bahwa: bakat setiap orang berbeda-beda, orang tua kadang-kadang tidak memperhatikan faktor bakat ini(Singgih Gunarsa, 1992). Anak sering diarahkan sesuai dengan kemauan orang tuanya, akibatnya bagi anak merupakan sesuatu beban, tekanan dan nilai-nilai yang ditetapkan oleh anak buruk serta tidak ada kemauan lagi untuk belajar.
Dari pendapat tersebut, dapat dijelaskan bahwa adanya pemaksaan dari orang tua didalam mengarahkan anak yang tidak sesuai dengan bakatnya dapat membebani anak, memunculkan nilai-nilai yang kurang baik, bahkan dirasakan menjadi tekanan bagi anak yang akhirnya akan berakibat kurang baik terhadap belajar anak di sekolah.
d.      Faktor Kepribadian
Faktor kepribadian dapat menyebabkan kesulitan belajar, jika tidak memperhatikan fase-fase perkembangan (kepribadian) seseorang. Hal ini sebagaimana pendapatmenjelaskan bahwa: fase perkembangan kepribadian seseorang tidak selalu sama (Ngalim Purwanto, 1992), Fase pembentuk kepribadian ada beberapa fase yang harus dilalui. Seorang anak yang belum mencapai suatu fase tertentu akan mengalami kesulitan dalam berbagai hal termasuk dalam hal belajar.
Dari pendapat tersebut, menunjukkan bahwa tidak semua fase-fase perkembangan (keperibadian) ini akan berjalan dengan begitu saja tanpa menimbulkan masalah, malah ada fase tertentu yang menimbulkan berbagai persoalan termasuk dalam hal kesulitan dalam belajar.
2.   Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah merupakan faktor yang datang dari luar diri individu. Faktor eksternal ini dapat di bedakan menjadi tiga faktor yaitu 1). Faktor keluarga 2). Faktor sekolah 3). Faktor masyarakat.
a.   Faktor Keluarga
Peranan orang tua (kelurga) sebagai tempat yang utama dan pertama didalam pembinaan dan pengembangan potensi anak-anaknya. Namun tidak semua orang tua mampu melaksanakanya dengan penuh tanggung jawab.
Beberapa hal yang dapat menimbulkan persoalan yang bersumber dari keluarga adalah seperti:
Ø  Sikap orang tua yag mengucilkan anaknya, tidak mepercayai, tidak adil dan tidak mau menerime anaknya secara wajar,
Ø  Broken home, perceraian, percekcokan,
Ø  Didikan yang otoriter, terlalu lemah dan memanjakannya,
Ø  Orang tua tidak mengetahui kemampuan anaknya, sifat kepribadian, minat, bakat, dan sebagainya.( Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta : Rineka Cipta, 1990), 4-5)
Ada beberapa aspek yang dapat menimbulkan masalah kesulitan belajar seorang anak yaitu:
Ø  Didikan orang tua yang keliru,
Ø  Suasana rumah yang kurang aman dan kurang harmonis,
Ø  Keadaan ekonomi orang tua yang lemah(Ibid, 32)
Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dapat menimbulkan persoalan atau sumber permasalahan adalah sikap orang tua yang mengucilkan anaknya, tidak mempercayai, tidak adil dan tidak mau menerima anaknya secara wajar, broken home, perceraian, percekcokan dan orang tua yang tidak tau kemampuan anaknya.
b.   Faktor Lingkungan Sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal setelah keluarga dapat menjadi masalah pada umumnya, dan khususnya masalah kesulitan belajar pada siswa.Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa:Lingkungan sekolah dapat menjadikan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar seperti:
1).   Cara penyajian pelajaran kurang baik.
2).   Hubungan guru dan murid kurang harmonis.
3).   Hubungan antara burid dengan murid itu sendiri tidak baik
4).   Bahan pelajaran yang disajikan tidak dimengerti siswa, dan
5).   Alat-alat pelajaran yang tersedia kurang memadai(Ibid, 31.)
c.    Faktor Lingkungan Masyarakat
Faktor lingkungan masyarakat sangat berperan di dalam pembentukan kepribadian anak, termasuk pula kemampuan/ pengetahuannya. Dimana lingkungan masyrakat yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, seperti: suka minum-minum minuman keras, penjudi dan sebagainya, dapat menghambat pembentukam kepribadiaan dan kemampuan, termasuk pula dalam proses belajar mengajar seorang anak.


























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.
2.      Guru telah berupaya bagaimana anak yang didiknya berhasil. Akan tetapi, keinginan tersebut sangat sulit dibuktikan untuk semua siswa. Supaya terwujud keinginan tersebut keterlibatan  wali murid (orang tua) dalam membimbing anak sangat penting dalam mencapai prestasi anak.
3.      Minat merupakan salah satu unsur kejiwaan yang datang dari hati nurani siswa. Tanpa minat, sebuah pekerjaan (proses) tidak akan berjalan lancar bahkan menjadi suatu penghamabat. Minat (rasa ingin tau) anak terhadap pelajaran merupakan modal utama dalam mencapai prestasi anak.
4.      Pretasi anak bisa tercapai tidak cukup dengan tenaga dan pikiran saja, akan tetapi ekonomi (biaya) merupakan salah satu unsur yang terpenting dalam meraih sebuah prestasi.
5.      Lingkungan masyarakat dapat mempengaruhi kesulitan belajar anak antara laian:
a.       Mass Media, seperti bioskop, televisi, radio, surat kabar, majalah, komik
b.      Corak Kehidupan tetangga, seperti orang terpelajar dan cendekiawan, tetangga yang suka berjudi, pencuri, peminum, dan sebagainya.
B.     Saran
Upaya memyempurnaan makalah ini telah dilakukan semaksimal mungkin, akan tetapi masih banyak kekurangan, baik dari segi bahasa, susunan kalimat dan penjabaran dan pembahasan yang kurang sempurna.

Penulis menyadari kekurangan tersebut, untuk itu saran dan keritikan untuk kesempurnaan makalah ini sangat diharapkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar